Pedoman Iklan dan Konten Bersponsor (Native Advertising): Menjaga Batas Tegas antara Informasi dan Promosi

La Maseng

- Penulis

Minggu, 15 Maret 2026 - 08:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : La Maseng

Di era digital, klik adalah mata uang. Trafik berarti pendapatan. Monetisasi menjadi kebutuhan operasional media. Namun di tengah realitas bisnis itu, ada satu garis yang tidak boleh kabur: batas antara berita dan iklan.

Di sinilah Pedoman Iklan dan Konten Bersponsor—termasuk praktik native advertising—menjadi krusial. Native advertising adalah format promosi yang dirancang menyerupai tampilan dan gaya konten editorial. Ia “menyatu” dengan desain media, sehingga tampak seperti berita biasa. Jika tidak dikelola secara transparan, publik bisa tertipu: mengira sedang membaca karya jurnalistik, padahal sebenarnya sedang menerima pesan komersial.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengapa Pedoman Ini Penting

Kepercayaan publik adalah modal utama media. Sekali pembaca merasa dikelabui, kredibilitas runtuh lebih cepat daripada algoritma mengganti trending topic.

Masalahnya bukan pada iklannya. Iklan adalah bagian sah dari ekosistem media. Tanpa pendapatan, redaksi tidak bisa bekerja. Masalah muncul ketika konten promosi disamarkan sebagai berita, tanpa penanda yang jelas.

Publik berhak tahu kapan mereka membaca laporan jurnalistik hasil proses verifikasi independen, dan kapan mereka membaca materi promosi dari pihak tertentu. Transparansi adalah kuncinya.

Prinsip Dasar Pedoman Iklan dan Konten Bersponsor

Pertama, pemisahan yang tegas antara ruang redaksi dan ruang komersial. Keputusan editorial tidak boleh dipengaruhi oleh kepentingan pemasang iklan. Struktur organisasi media idealnya menjaga jarak profesional antara tim redaksi dan tim pemasaran.

Baca Juga:  Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)

Kedua, pelabelan yang jelas. Konten bersponsor harus diberi tanda yang mudah dikenali, seperti “Iklan”, “Advertorial”, “Konten Bersponsor”, atau istilah lain yang setara dan tidak menyesatkan. Label tersebut harus terlihat, bukan disembunyikan dalam ukuran huruf kecil.

Ketiga, tidak menyesatkan. Bahasa dan struktur konten tidak boleh menciptakan kesan bahwa materi tersebut adalah hasil kerja jurnalistik independen jika sebenarnya merupakan bagian dari promosi.

La Maseng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa
Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)
Snowball Business Model Nandan Limakrisna: Solusi Ekonomi Berbasis Kepercayaan di Era Kapitalisme
Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi
Oligarkinomics vs Snowball Business Model: Ketika Kejujuran Menjadi Kekuatan Ekonomi
Undang-Undang Pers dan Regulasi Terkait: Fondasi Hukum bagi Kebebasan dan Tanggung Jawab Media
Soemitronomics dari Atas, Snowball Business Model dari Bawah
Pedoman Pemberitaan Terorisme: Menjaga Keseimbangan antara Informasi dan Tanggung Jawab Sosial

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Rabu, 1 April 2026 - 07:53 WIB

OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:55 WIB

Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)

Jumat, 20 Maret 2026 - 15:35 WIB

Snowball Business Model Nandan Limakrisna: Solusi Ekonomi Berbasis Kepercayaan di Era Kapitalisme

Rabu, 18 Maret 2026 - 12:37 WIB

Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi

Senin, 16 Maret 2026 - 19:01 WIB

Oligarkinomics vs Snowball Business Model: Ketika Kejujuran Menjadi Kekuatan Ekonomi

Berita Terbaru