Pakar: Lahan Basah Kalimantan Jadi Benteng Alami Cegah Banjir di Samarinda

Lutfika Madjoka

- Penulis

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detikberita, Jakarta – Lahan basah di kawasan dataran banjir (floodplain) Kalimantan dinilai memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan tata air. Kawasan yang selama ini kerap dianggap sebagai lahan terlantar itu justru menjadi benteng alami yang mampu menahan banjir sekaligus menyimpan cadangan air saat musim kemarau.

Hal tersebut disampaikan Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim, Prof. Dr. Hidayat S.Kom, M.Sc. Menurutnya, ekosistem lahan basah di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur merupakan bagian dari sistem sungai yang saling terhubung dan memiliki fungsi ekologis yang tidak tergantikan.

“Selama ini lahan basah sering dianggap sebagai wasteland atau lahan yang tidak berguna. Padahal kawasan itu berfungsi sebagai tempat penyimpanan air sekaligus daerah penyangga bagi wilayah di bagian hilir,” kata Prof. Hidayat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menjelaskan, salah satu contohnya terdapat di kawasan Mahakam Tengah yang memiliki sekitar 30 danau saling terhubung. Danau-danau tersebut berfungsi menampung limpahan air saat musim hujan sehingga debit air yang mengalir ke wilayah hilir seperti Tenggarong dan Samarinda dapat dikendalikan.
Menurutnya, apabila kawasan lahan basah tersebut rusak atau dialihfungsikan, maka risiko banjir di wilayah hilir akan meningkat secara signifikan.

Selain berfungsi mengurangi banjir, lahan basah juga menjadi cadangan air alami saat musim kemarau. Air yang tersimpan di kawasan tersebut akan dilepaskan secara bertahap sehingga mampu menjaga ketersediaan air ketika debit sungai menurun.

Baca Juga:  Kedaulatan Ekonomi: Antara Diplomasi Global dan Kekuatan dari Dalam

“Air yang tertahan di kawasan tengah itu bisa bertahan berbulan-bulan. Ketika musim kemarau datang, air akan mengalir perlahan sehingga membantu mengurangi risiko kekeringan,” ujarnya.

Prof. Hidayat juga mengingatkan bahwa setiap komponen ekosistem perairan memiliki fungsi penting, termasuk tumbuhan air seperti eceng gondok yang selama ini sering dianggap gulma.
“Eceng gondok memang sering dianggap mengganggu, tetapi dalam kondisi tertentu juga memiliki fungsi ekologis sebagai bagian dari sistem retensi air di kawasan hulu untuk membantu mitigasi banjir maupun kekeringan,” jelasnya.

Di akhir pemaparannya, Prof. Hidayat menekankan bahwa pengelolaan sumber daya air akan menjadi isu yang semakin strategis di masa depan, termasuk dalam mendukung perkembangan teknologi.
Menurutnya, kebutuhan air tidak hanya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi modern seperti kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“Mesin-mesin komputasi AI membutuhkan sistem pendingin yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Karena itu, menjaga sumber daya air berarti juga menjaga masa depan teknologi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jaga Hak Masyarakat Pesisir, Implementasi Blue Economy Harus Adil dan Sentuh Kearifan Lokal
Inti Bhuwana Esa Angkat Warisan Kayu Jati Bali ke Pasar Global, Owner Akhmad Sholeh Fokus Jaga Kualitas
Karya Arsitektur Friedrich Silaban Simbol Perjalanan Bangsa,PADI:Layak Jadi Pahlawan Nasional
Said Iqbal Sidak Kantor PT Moya Usai 3 Pekerja Tewas di Gorong-gorong TMII
Rakernas GP Al-Washliyah Jadi Forum Konsolidasi dan Perumusan Gagasan untuk Bangsa
Atta Halilintar dan HGI Berkolaborasi Hadirkan Luís Figo ke Indonesia, Siap Meriahkan Pesta Bola 2026
Konsolidasi II FKN 08 Perkuat Sinergi Organisasi Pendukung Program Presiden Prabowo
Rakernas LSB Muhammadiyah, Seni dan Budaya sebagai Strategi Dakwah Berkemajuan

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:14 WIB

Jaga Hak Masyarakat Pesisir, Implementasi Blue Economy Harus Adil dan Sentuh Kearifan Lokal

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:47 WIB

Pakar: Lahan Basah Kalimantan Jadi Benteng Alami Cegah Banjir di Samarinda

Senin, 13 Juli 2026 - 20:50 WIB

Inti Bhuwana Esa Angkat Warisan Kayu Jati Bali ke Pasar Global, Owner Akhmad Sholeh Fokus Jaga Kualitas

Senin, 13 Juli 2026 - 20:31 WIB

Karya Arsitektur Friedrich Silaban Simbol Perjalanan Bangsa,PADI:Layak Jadi Pahlawan Nasional

Senin, 13 Juli 2026 - 13:09 WIB

Said Iqbal Sidak Kantor PT Moya Usai 3 Pekerja Tewas di Gorong-gorong TMII

Berita Terbaru