JAKARTA, DETIKBERITA.CO.ID —
Kepergian Sekretaris Yayasan Forum Komunikasi Antar Media (FORKAM), Muhammad Sofian atau yang akrab disapa Bang Jack, menyisakan duka mendalam bagi kalangan aktivis dan insan media. Sosok yang dikenal aktif dalam advokasi hukum dan kegiatan sosial ini wafat pada Sabtu (21/3/2026), bertepatan dengan 1 Syawal 1447 Hijriah.
Bang Jack mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, setelah berbulan-bulan menjalani perawatan akibat sakit yang tak kunjung sembuh. Kabar duka tersebut dengan cepat menyebar dan mengejutkan banyak pihak yang mengenalnya sebagai figur vokal, bersahaja, dan berdedikasi tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Suasana kehilangan masih terasa hingga Selasa (24/3/2026), saat sejumlah aktivis, rekan media, serta anggota FORKAM menghadiri takziah hari ketiga di kediaman almarhum. Doa bersama dipanjatkan dengan khidmat, mencerminkan kedekatan almarhum dengan berbagai kalangan lintas latar belakang.
Ketua Yayasan FORKAM, Harry Amiruddin, menyampaikan bahwa kepergian Bang Jack merupakan kehilangan besar bagi organisasi dan dunia aktivisme.
“Kami kehilangan sosok yang bukan hanya penggerak, tetapi juga perekat. Bang Jack adalah pribadi yang selalu hadir di tengah persoalan, memberi solusi dengan hati. Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan,” ujar Harry di sela takziah.
Sementara itu, Penasehat FORKAM, Baston Sibarani, turut menyampaikan rasa duka yang mendalam. Ia menekankan bahwa nilai kemanusiaan yang diperjuangkan almarhum melampaui sekat perbedaan.
“Dalam iman kami, setiap perbuatan baik adalah kesaksian hidup. Bang Jack telah menunjukkan itu. Ia berjuang untuk keadilan dan kemanusiaan tanpa melihat latar belakang. Kami percaya, segala kebaikannya menjadi terang yang menyertainya,” kata Baston.
Dalam momen tersebut, solidaritas dari kalangan insan media juga diwujudkan melalui aksi nyata. Sejumlah rekan jurnalis dan aktivis yang tergabung dalam jejaring FORKAM menghimpun bantuan berupa uang duka yang dikumpulkan secara sukarela melalui donasi terbuka.
Penggalangan dana tersebut dilakukan dengan mengedepankan keikhlasan, tanpa batasan nominal. Bantuan yang terkumpul kemudian diserahkan langsung kepada pihak keluarga sebagai bentuk empati dan dukungan moral.
Harry Amiruddin menegaskan bahwa inisiatif tersebut lahir dari rasa kebersamaan yang telah lama terbangun di antara insan media.
“Ini bukan soal besar kecilnya bantuan, tetapi bentuk kepedulian kami sebagai keluarga besar. Teman-teman media dengan ikhlas menyisihkan rezekinya untuk membantu keluarga almarhum,” ujarnya.
Senada dengan itu, Baston Sibarani menilai aksi solidaritas ini sebagai cerminan nilai kemanusiaan yang universal.
“Kebaikan seperti ini adalah wujud nyata kasih kepada sesama. Ketika satu saudara berduka, yang lain hadir menguatkan. Inilah nilai kemanusiaan yang harus terus dijaga,” kata dia.
Semasa hidup, Bang Jack dikenal luas sebagai aktivis hukum yang kerap membela kepentingan masyarakat kecil. Ia juga aktif menjembatani komunikasi antar media melalui FORKAM serta mendorong solidaritas di antara jurnalis dan pegiat sosial.
Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga warisan nilai tentang keberanian, kepedulian, dan pengabdian. Bagi banyak orang, Bang Jack bukan sekadar rekan, melainkan inspirasi dalam memperjuangkan suara yang kerap terpinggirkan.





















