Silaen Soroti Indonesia Net Importir: Murni Kebutuhan atau Ada Kepentingan?

Abdul Hapid

- Penulis

Selasa, 3 Maret 2026 - 08:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DetikBerita. Co. Id|| Jakarta – Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F. Silaen menyoroti fenomena Indonesia yang kerap disebut sebagai negara net importir, meskipun Indonesia kaya akan sumber daya alamnya. Ia mempertanyakan apakah tingginya angka impor semata-mata disebabkan ketidakmampuan produksi dalam negeri, atau ada faktor lain yang ikut bermain?
“Apakah ini murni karena kita tidak mampu memproduksi sendiri, atau ada kepentingan tertentu yang memboncengi praktik impor, sehingga dilakukan secara sistematis karena lebih menguntungkan bagi pihak-pihak tertentu? Ini yang perlu dikaji secara jernih,” ujar Silaen, kepada awak media di Jakarta, Senin (2/3/2026),

Menurutnya, membangun ekosistem industri nasional memang tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan konsistensi kebijakan dan keteguhan pemerintah agar tidak tergoda solusi jangka pendek di tengah dinamika ekonomi global yang kompleks.
“Impor sering dijadikan jalan pintas untuk menjaga stabilitas harga dan memenuhi kebutuhan yang belum mampu dikejar produksi lokal. Namun jika terus-menerus bergantung impor tanpa solusi terukur jangka panjang, maka ketergantungan itu akan menjadi sistemik,” tegasnya.

Ketergantungan Bahan Baku
Silaen menjelaskan, sebagian besar impor Indonesia sejatinya bukan barang konsumsi, melainkan bahan baku dan barang penolong industri. Sektor otomotif, elektronik, hingga tekstil memang melakukan proses perakitan di dalam negeri, tetapi komponen utama masih didatangkan dari luar.
“Industri hulunya belum kuat. Akibatnya, kita merakit di sini, tetapi nilai tambah terbesar tetap berada di negara produsen komponen,” katanya.
Sektor Pangan
Kesenjangan pemenuhan Produksi Pangan Indonesia tidak menyentuh akar persoalan yang fundamental, karena Indonesia dikenal sebagai negara agraris tapi kenyataannya ‘doyan’ mengimpor komoditas strategis seperti beras, gula, daging sapi, dan kedelai. Silaen menilai persoalan klasik selalu berulang tanpa penyelesaian yang konsisten dan berkelanjutan.
Ia menyebut beberapa faktor utama, antara lain pertumbuhan penduduk yang lebih cepat dibanding peningkatan produktivitas lahan, gangguan cuaca seperti El Nino, serta tingginya biaya logistik domestik yang dalam beberapa kasus lebih mahal dibandingkan biaya impor dari negara tetangga.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Setiap kali terjadi gagal panen, faktor cuaca sering dijadikan kambing hitam. Padahal yang dibutuhkan adalah pembenahan secara sistemik, menyeluruh dan solusi yang permanen,” ujarnya.
Barang Modal dan Teknologi
Lebih lanjut, Silaen menyinggung impor barang modal seperti mesin dan teknologi tinggi. Menurutnya, kebutuhan tersebut wajar dalam proses pembangunan industri dan infrastruktur. Namun ia mengingatkan agar kebijakan tidak berhenti pada jargon semata.
“Secara teori, membangun pabrik dan infrastruktur memang membutuhkan mesin berat dan teknologi tinggi. Tapi harus ada peta jalan yang jelas agar kita tidak selamanya bergantung pada impor,” katanya.
Sektor Energi
Dalam sektor energi, Silaen mengingatkan bahwa Indonesia pernah menjadi eksportir minyak dan anggota OPEC. Kini, Indonesia berstatus net importer minyak. Sementara konsumsi bahan bakar terus meningkat, kapasitas kilang dalam negeri belum memadai untuk memenuhi kebutuhan secara penuh.

Baca Juga:  Ussy Pieters Resmi Pimpin PAPPRI DKI Jakarta, Perkuat Kolaborasi Seni dan Ekonomi Kreatif

“Ketergantungan ini tidak bisa dibiarkan tanpa strategi jangka panjang. Kalau tidak, tekanan terhadap neraca perdagangan akan terus berulang,” jelasnya.
Efisiensi dan Biaya Terselubung
Di sisi lain, Silaen mengakui bahwa dalam pasar global, beberapa barang impor memang lebih murah karena diproduksi dalam skala besar. Namun ia juga menyinggung adanya biaya-biaya tinggi dalam praktik impor yang kerap menjadi sorotan publik.
“Secara teori, impor bisa lebih efisien dari sisi harga dan kualitas. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata terhadap berbagai biaya tambahan yang membuat sistem ini tidak sepenuhnya transparan,” tandas Silaen.
Ia menegaskan, yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar pembatasan impor, melainkan strategi besar penguatan industri hulu, perbaikan tata kelola, serta keberanian mengambil keputusan jangka panjang demi kemandirian ekonomi nasional. (*)

Abdul Hapid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polres Pelabuhan Tanjung Priok Gelar Patroli Cipta Kondisi dan Strong point Apresiasi Ganguan Kamtibmas Pada Dini Hari
Polri Mutasi 12 Pati dan Pamen, Sejumlah Jabatan di Bareskrim hingga Kewilayahan Bergeser
Kapolri Silaturahmi dengan Pimpinan MUI,Perkuat Sinergi Jaga Keamanan dan Kerukunan
Atas Nama Kemanusiaan,Tak Ada Ruang Untuk Sikap Abu-Abu Heri Kustanto Tolak Konser Andrea Bocelli
HIPPMAKEL SOROT DLH KONAWE UTARA TERKAIT DUGAAN PENCEMARAN LAUT DI PERAIRAN LEMBO
Kecamatan Kelapa Dua Raih Juara 1 Lomba Kecamatan Tingkat Kabupaten Tangerang 2026
Polda Metro Jaya Bongkar Jaringan Curanmor Lintas Provinsi, Senpi Rakitan dan Puluhan Motor Disita
Pastikan Keamanan Pangan MBG,Sidokkes Polres Pelabuhan Tanjung Priok Laksanakan Pemeriksaan Food Safety

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:57 WIB

Polres Pelabuhan Tanjung Priok Gelar Patroli Cipta Kondisi dan Strong point Apresiasi Ganguan Kamtibmas Pada Dini Hari

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:48 WIB

Polri Mutasi 12 Pati dan Pamen, Sejumlah Jabatan di Bareskrim hingga Kewilayahan Bergeser

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:41 WIB

Kapolri Silaturahmi dengan Pimpinan MUI,Perkuat Sinergi Jaga Keamanan dan Kerukunan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 21:33 WIB

HIPPMAKEL SOROT DLH KONAWE UTARA TERKAIT DUGAAN PENCEMARAN LAUT DI PERAIRAN LEMBO

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:41 WIB

Kecamatan Kelapa Dua Raih Juara 1 Lomba Kecamatan Tingkat Kabupaten Tangerang 2026

Berita Terbaru

Urban Legend

JEJAK NAGA DI GROBOGAN MENGUAK MISTERI BLEDUG KUWU

Rabu, 14 Okt 2026 - 12:04 WIB

Hukum dan Kriminal

FORMASI Desak KPK Tersangkakan dan Tangkap Nusron Wahid

Rabu, 14 Okt 2026 - 11:41 WIB