Inge Nurtjahyo : UI Dorong Gerakan Anti-Bullying Dimulai Sejak Usia Sekolah

Dina Mariyana

- Penulis

Minggu, 9 Agustus 2026 - 01:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detikberita, Jakarta – Gerakan pencegahan perundungan atau bullying dinilai perlu dimulai sejak usia sekolah, khususnya tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Hal  tersebut mengemuka dalam Talkshow & Seminar Anti- Bullying bertema “Bersatu Lawan Bullying, Bersama Ciptakan Generasi Hebat” yang digelar dalam rangka Road Show &Open Casting Film Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu di Cipinang Indah Mall, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Dr. Lidwina Inge Nurtjahyo, S.H. M.Si., Wage Wardana, M.Pd, Farid Ongky, Edo serta Ronny Mepet.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Penanganan Kode Etik dan Kode Perilaku Universitas Indonesia (UI),  Dr. Lidwina Inge Nurtjahyo mengatakan usia remaja merupakan masa penting dalam pembentukan karakter, kebiasaan, dan pola perilaku. Karena itu, edukasi mengenai bahaya perundungan sebaiknya diberikan sebelum seseorang memasuki usia dewasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Justru dengan melibatkan teman-teman SMP, murid-murid SMP ini sangat tepat karena mereka sedang berada di usia remaja, sedang membentuk kebiasaan dan mencari model. Sangat tepat kalau gerakan anti-bullying dimulai sejak SD kelas 3 sampai kelas 6 dan SMP kelas 7 sampai kelas 9,” ujar Inge.

Menurutnya, perundungan tidak boleh lagi dipandang sebagai persoalan sepele di lingkungan pendidikan. Dampaknya dapat memengaruhi kondisi psikologis korban, mulai dari munculnya rasa rendah diri hingga persoalan yang lebih serius ketika korban merasa tidak memiliki harapan.

“Bullying itu dampaknya bukan hanya pada soal rasa rendah diri. Karena itu, guru harus menanggapi dengan lebih serius ketika ada murid yang mengatakan tidak nyaman dengan perlakuan atau kata-kata dari temannya,” katanya.

Inge juga menilai pencegahan perundungan perlu melibatkan guru, orang tua, serta lingkungan pendidikan secara menyeluruh. Menurut dia, anak dan remaja terkadang mengucapkan kata-kata secara spontan karena emosi yang masih tinggi. Hal tersebut perlu menjadi perhatian agar komunikasi antarremaja tidak berubah menjadi tindakan yang dianggap merundung.

Baca Juga:  Desak Audit Jakpro, Seniman Segel Hotel di Taman Ismail Marzuki

Dari sisi pendidikan, Inge menyebut isu kekerasan dan perundungan telah mendapat perhatian dalam kebijakan pendidikan berbasis agama. Ia juga menilai penanganan perundungan perlu diperkuat melalui pendekatan psikologi, baik psikologi klinis maupun psikologi pendidikan, sehingga tidak hanya berfokus pada penanganan setelah kasus terjadi.

“Menurut saya ini penting sekali masuk psikologi, baik psikologi klinis maupun psikologi pendidikan. Ini mestinya masuk dalam kurikulum supaya persoalan bullying bisa dianggap serius,” tuturnya.

Ia menambahkan, pemerintah dan lembaga pendidikan telah memiliki berbagai mekanisme penanganan kekerasan di sekolah maupun perguruan tinggi. Namun, implementasinya masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk luas wilayah, keterbatasan akses layanan, serta koordinasi antarlembaga.

Inge juga menekankan pentingnya peran media dalam mendorong pemberitaan yang edukatif dan menyebarkan informasi positif terkait pencegahan perundungan.

Melalui kegiatan Talkshow & Seminar Anti- Bullying “Bersatu Lawan Bullying, Bersama Ciptakan Generasi Hebat”, Inge berharap kampanye antiperundungan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan bersama yang melibatkan siswa, guru, orang tua, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi anak dan remaja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ronny Mepet : Perundungan Bukan Lagi Sekadar Candaan
HUT Ke-1 PRI di Kepri, Ratusan Kader Hadiri Perayaan dan Bagikan Bansos
Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Perkuat Sinergi dengan Tokoh Masyarakat Jakarta Utara,Bahas Kamtibmas dan Kerukunan
Tiga Calon wisatawan Rugi Rp66 Juta, Jadi Korban Penipuan Pengurusan Visa Taiwan
Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Perkuat Sinergi dengan PWI-LS DKI Jakarta
JJOS Patroli Cipta Kondisi Polres Pelabuhan Tanjung Priok, Antisipasi Kejahatan Jalanan dan Ganguan Kamtibmas
Ribuan Peserta Padati Monas, Kembang Latar Tegaskan Komitmen Jaga Jakarta untuk Indonesia
Khartula Berpotensi Di Musim Kemarau, Hendaknya Seluruh Forkompinda Kepulauan Riau Mawas Diri 

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 01:23 WIB

Ronny Mepet : Perundungan Bukan Lagi Sekadar Candaan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 01:15 WIB

Inge Nurtjahyo : UI Dorong Gerakan Anti-Bullying Dimulai Sejak Usia Sekolah

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 20:54 WIB

HUT Ke-1 PRI di Kepri, Ratusan Kader Hadiri Perayaan dan Bagikan Bansos

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 16:18 WIB

Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Perkuat Sinergi dengan Tokoh Masyarakat Jakarta Utara,Bahas Kamtibmas dan Kerukunan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 16:13 WIB

Tiga Calon wisatawan Rugi Rp66 Juta, Jadi Korban Penipuan Pengurusan Visa Taiwan

Berita Terbaru

Berita

Ronny Mepet : Perundungan Bukan Lagi Sekadar Candaan

Minggu, 9 Agu 2026 - 01:23 WIB