Balikpapan, 29 Oktober 2026
Dari Nasi Kuning ke Toga Doktor:
Pemuda, Jangan Menunggu Tua untuk Berani
Oleh: Dr. Indrayani, M.Pd.
Wakil Rektor II Universitas Balikpapan
Ikrar yang Ditulis oleh Tangan-Tangan Muda
Setiap kali bulan Oktober tiba, saya selalu teringat pada sebuah ruangan sederhana di Batavia, 28 Oktober 1928. Di sana, anak-anak muda dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, Ambon, Kalimantan, dan berbagai penjuru Nusantara duduk bersama. Mereka datang dengan logat yang berbeda, adat yang berbeda, bahkan cara pandang yang berbeda. Namun mereka pulang dengan satu ikrar: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang membuat saya tergetar bukan hanya isi ikrarnya, melainkan siapa yang mengucapkannya. Mereka bukan para menteri, bukan pejabat tinggi, bukan pula tokoh yang sudah mapan. Mereka adalah pemuda dan pelajar yang belum memiliki apa-apa, kecuali keberanian. Di bawah pengawasan pemerintah kolonial, dengan risiko ditangkap dan dibungkam, mereka memilih untuk berdiri dan bersuara.
Mereka tidak meminta izin kepada usia. Mereka tidak menunggu rambut memutih untuk merasa pantas memikirkan nasib bangsa. Mereka mendahului zamannya, dan karena keberanian itulah kita hari ini bisa menyebut diri sebagai satu bangsa.
Pelajaran dari Sebungkus Nasi Kuning
Izinkan saya bercerita tentang perjalanan pribadi saya. Bukan untuk berbangga, melainkan untuk menyampaikan satu pesan kepada anak-anak muda: tidak ada titik berangkat yang terlalu rendah untuk sebuah cita-cita yang tinggi.
Di masa muda, saya pernah berjualan nasi kuning. Bagi sebagian orang, itu mungkin pekerjaan kecil. Bagi saya, itu adalah sekolah kehidupan yang paling jujur. Berjualan mengajarkan saya untuk bangun lebih pagi dari kebanyakan orang, menyiapkan dagangan dengan sungguh-sungguh, dan menyambut pembeli dengan senyum meski lelah belum sempat beristirahat.
Dari sebungkus nasi kuning, saya belajar arti disiplin. Saya belajar bahwa setiap rupiah harus dihargai, bahwa kepercayaan pembeli dibangun dari kejujuran, dan bahwa hari yang sepi pembeli bukan alasan untuk menyerah keesokan harinya.
Tanpa saya sadari, pelajaran itulah yang kelak menjadi fondasi ketika saya memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Saya ingin anak-anak muda tahu: tangan yang pernah membungkus nasi kuning juga bisa memegang toga doktor. Kerja keras tidak pernah merendahkan martabat; justru kerja keraslah yang memuliakannya.
“Tangan yang pernah membungkus nasi kuning juga bisa memegang toga doktor.”
Toga Doktor di Usia Tiga Puluh
Ketika saya memutuskan untuk menempuh pendidikan doktoral, tidak sedikit yang memandang dengan heran. Kuliah S3, dalam bayangan banyak orang, adalah urusan mereka yang sudah berumur, sudah mapan, dan sudah lama berkarier. Seolah ada jadwal tidak tertulis yang menentukan kapan seseorang pantas duduk di bangku program doktor.
Saya memilih untuk tidak menunggu jadwal itu. Saya meraih gelar doktor pada usia 30 tahun. Jalan menuju ke sana tidak mudah. Ada malam-malam panjang membaca literatur, ada naskah yang harus diperbaiki berulang kali, ada keraguan yang sesekali datang mengetuk. Namun setiap kali lelah, saya mengingat pagi-pagi ketika saya menyiapkan dagangan. Jika dulu saya bisa bertahan, maka kali ini pun saya pasti bisa.
Gelar doktor di usia muda bukanlah soal gengsi. Ia adalah tentang waktu. Semakin muda seseorang menyelesaikan pendidikan tertingginya, semakin panjang masa pengabdiannya: semakin banyak penelitian yang bisa ia lahirkan, semakin banyak mahasiswa yang bisa ia bimbing, dan semakin lama ia dapat berkontribusi bagi kemajuan bangsanya.
Amanah yang Datang Lebih Cepat
Hari ini saya dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Rektor II Universitas Balikpapan, membidangi keuangan dan anggaran, sumber daya manusia, serta pembinaan dan pengembangan kewirausahaan. Jabatan ini, dalam bayangan banyak orang, lazimnya diisi oleh akademisi senior yang telah menempuh perjalanan karier puluhan tahun.
Saya memaknai amanah ini bukan sebagai mahkota, melainkan sebagai beban kehormatan. Usia muda tidak menjadi alasan untuk bekerja setengah hati. Justru sebaliknya, ia menuntut pembuktian yang lebih keras. Setiap keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan, setiap kebijakan harus berpihak pada kemajuan institusi, dan setiap langkah harus menunjukkan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada orang muda tidaklah sia-sia.
Ada satu hal yang menurut saya indah: bidang kewirausahaan yang kini saya bina di kampus seakan mempertemukan saya kembali dengan masa lalu. Semangat seorang penjual nasi kuning kini hadir dalam bentuk yang lain, yaitu mendorong mahasiswa untuk berani berwirausaha, berani mandiri, dan berani menciptakan peluang, bukan sekadar menunggunya.
Merobohkan Tembok Antrean Usia
Masyarakat kita, dengan segala kebaikannya, sering kali membangun tembok yang tidak terlihat: tembok antrean usia. Anak muda diminta menunggu giliran.
Diminta bersabar. Diminta tidak “melangkahi” yang lebih tua. Akibatnya, banyak potensi besar terkubur dalam ruang tunggu yang terlalu panjang.
Saya sangat menghormati pengalaman para senior. Pengalaman adalah guru yang mahal, dan saya pun terus belajar dari para pendahulu. Namun menghormati senior tidak sama dengan memadamkan api di dalam diri sendiri. Melangkah lebih dulu bukan berarti meninggalkan yang tua, melainkan berlari bersama dengan semangat yang lebih kencang.
Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah. Bonus demografi ada di depan mata, dan cita-cita Indonesia Emas 2045 menanti untuk diwujudkan. Kesempatan emas ini hanya akan bermakna bila anak muda tidak sekadar tercatat sebagai penduduk usia produktif, melainkan benar-benar tampil sebagai pelaku perubahan: belajar setinggi-tingginya, memimpin lebih awal, dan berkarya tanpa menunggu restu usia.
“Melangkah lebih dulu bukan berarti meninggalkan yang tua, melainkan berlari bersama dengan semangat yang lebih kencang.”
Untuk Pemuda Kalimantan Timur dan Indonesia
Kepada anak-anak muda di Kalimantan Timur yang kini menjadi beranda Ibu Kota Nusantara, dan di seluruh penjuru negeri, saya ingin menyampaikan pesan dari hati.
Jangan menunggu tua untuk berani. Jika ada kesempatan melanjutkan kuliah hingga magister dan doktor, raihlah sekarang. Jika amanah kepemimpinan datang kepadamu, sambutlah dengan rendah hati dan buktikan dengan kerja nyata. Jika kamu memulai dari tempat yang sederhana, dari warung kecil, dari dagangan di pinggir jalan, dari keluarga yang serba terbatas, jangan pernah malu. Justru dari sanalah watak pejuang ditempa.
Namun keberanian harus berjalan bersama kesiapan. Bekali dirimu dengan integritas, karena jabatan tanpa integritas hanya akan menjadi bencana. Bekali dirimu dengan kompetensi, karena semangat tanpa kemampuan akan cepat padam. Dan bekali dirimu dengan kerendahan hati, karena orang yang berhenti belajar sesungguhnya telah berhenti menjadi muda.
Kepada institusi, baik kampus, pemerintah, maupun dunia usaha, saya juga ingin mengajak: bukalah pintu lebih lebar bagi anak muda. Ukurlah seseorang dari kapasitas, integritas, dan rekam jejaknya, bukan semata dari angka usianya. Kepercayaan yang kita berikan kepada generasi muda hari ini adalah investasi terbesar bagi masa depan bangsa.
Sumpah Kita Hari Ini
Para pemuda 1928 telah menunaikan tugas sejarahnya. Mereka mempersatukan bangsa yang tercerai-berai. Tugas kita hari ini berbeda, tetapi tidak kalah mulia: memajukan bangsa yang telah mereka satukan. Medan perjuangan kita adalah ruang kuliah, laboratorium, ruang usaha, dan meja-meja pengambilan keputusan.
Jika pemuda 1928 bersumpah untuk bersatu, maka biarlah pemuda hari ini bersumpah untuk berani: berani belajar setinggi langit, berani memimpin sejak dini, dan berani mengambil peran bagi kemajuan Indonesia.
Saya pernah menjadi seorang anak muda yang berjualan nasi kuning. Hari ini saya berdiri di sini untuk mengatakan kepada kalian: jika saya bisa, kalian pun pasti bisa. Bahkan kalian bisa melangkah jauh lebih tinggi.
Selamat Hari Sumpah Pemuda. Pemuda berani, Indonesia maju!
- DARI NASI KUNING KE TOGADOKTOR : PEMUDA, JANGAN MENUNGGU TUA UNTUK BERANI OLEH DR INDRAYANI M.PD. WAKIL REKTOR II UNIVERSITAS BALIKPAPAN - 29/10/2026
- Kapolda Metro Jaya Mendapat Apresiasi Positif - 29/10/2026
- Legalitas Penggunaan Material Diduga Ilegal, Sejumlah Proyek Di Konawe Terus Berjalan, Polres Konawe Didesak Lakukan Penyelidikan. Irsan Pagala: Kalau Perlu Lakukan OTT - 27/10/2026


















