DARI NASI KUNING KE TOGA DOKTOR : PEMUDA, JANGAN MENUNGGU TUA UNTUK BERANI OLEH DR INDRAYANI M.PD. WAKIL REKTOR II UNIVERSITAS BALIKPAPAN

Apandi Tondowatu

- Penulis

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Balikpapan, 29 Oktober 2026

Dari Nasi Kuning ke Toga Doktor:
Pemuda, Jangan Menunggu Tua untuk Berani
Oleh: Dr. Indrayani, M.Pd.
Wakil Rektor II Universitas Balikpapan

Ikrar yang Ditulis oleh Tangan-Tangan Muda
Setiap kali bulan Oktober tiba, saya selalu teringat pada sebuah ruangan sederhana di Batavia, 28 Oktober 1928. Di sana, anak-anak muda dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, Ambon, Kalimantan, dan berbagai penjuru Nusantara duduk bersama. Mereka datang dengan logat yang berbeda, adat yang berbeda, bahkan cara pandang yang berbeda. Namun mereka pulang dengan satu ikrar: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yang membuat saya tergetar bukan hanya isi ikrarnya, melainkan siapa yang mengucapkannya. Mereka bukan para menteri, bukan pejabat tinggi, bukan pula tokoh yang sudah mapan. Mereka adalah pemuda dan pelajar yang belum memiliki apa-apa, kecuali keberanian. Di bawah pengawasan pemerintah kolonial, dengan risiko ditangkap dan dibungkam, mereka memilih untuk berdiri dan bersuara.
Mereka tidak meminta izin kepada usia. Mereka tidak menunggu rambut memutih untuk merasa pantas memikirkan nasib bangsa. Mereka mendahului zamannya, dan karena keberanian itulah kita hari ini bisa menyebut diri sebagai satu bangsa.
Pelajaran dari Sebungkus Nasi Kuning
Izinkan saya bercerita tentang perjalanan pribadi saya. Bukan untuk berbangga, melainkan untuk menyampaikan satu pesan kepada anak-anak muda: tidak ada titik berangkat yang terlalu rendah untuk sebuah cita-cita yang tinggi.

Di masa muda, saya pernah berjualan nasi kuning. Bagi sebagian orang, itu mungkin pekerjaan kecil. Bagi saya, itu adalah sekolah kehidupan yang paling jujur. Berjualan mengajarkan saya untuk bangun lebih pagi dari kebanyakan orang, menyiapkan dagangan dengan sungguh-sungguh, dan menyambut pembeli dengan senyum meski lelah belum sempat beristirahat.

Dari sebungkus nasi kuning, saya belajar arti disiplin. Saya belajar bahwa setiap rupiah harus dihargai, bahwa kepercayaan pembeli dibangun dari kejujuran, dan bahwa hari yang sepi pembeli bukan alasan untuk menyerah keesokan harinya.

Tanpa saya sadari, pelajaran itulah yang kelak menjadi fondasi ketika saya memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Saya ingin anak-anak muda tahu: tangan yang pernah membungkus nasi kuning juga bisa memegang toga doktor. Kerja keras tidak pernah merendahkan martabat; justru kerja keraslah yang memuliakannya.

“Tangan yang pernah membungkus nasi kuning juga bisa memegang toga doktor.”
Toga Doktor di Usia Tiga Puluh
Ketika saya memutuskan untuk menempuh pendidikan doktoral, tidak sedikit yang memandang dengan heran. Kuliah S3, dalam bayangan banyak orang, adalah urusan mereka yang sudah berumur, sudah mapan, dan sudah lama berkarier. Seolah ada jadwal tidak tertulis yang menentukan kapan seseorang pantas duduk di bangku program doktor.

Saya memilih untuk tidak menunggu jadwal itu. Saya meraih gelar doktor pada usia 30 tahun. Jalan menuju ke sana tidak mudah. Ada malam-malam panjang membaca literatur, ada naskah yang harus diperbaiki berulang kali, ada keraguan yang sesekali datang mengetuk. Namun setiap kali lelah, saya mengingat pagi-pagi ketika saya menyiapkan dagangan. Jika dulu saya bisa bertahan, maka kali ini pun saya pasti bisa.

Gelar doktor di usia muda bukanlah soal gengsi. Ia adalah tentang waktu. Semakin muda seseorang menyelesaikan pendidikan tertingginya, semakin panjang masa pengabdiannya: semakin banyak penelitian yang bisa ia lahirkan, semakin banyak mahasiswa yang bisa ia bimbing, dan semakin lama ia dapat berkontribusi bagi kemajuan bangsanya.

Amanah yang Datang Lebih Cepat
Hari ini saya dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Rektor II Universitas Balikpapan, membidangi keuangan dan anggaran, sumber daya manusia, serta pembinaan dan pengembangan kewirausahaan. Jabatan ini, dalam bayangan banyak orang, lazimnya diisi oleh akademisi senior yang telah menempuh perjalanan karier puluhan tahun.

Saya memaknai amanah ini bukan sebagai mahkota, melainkan sebagai beban kehormatan. Usia muda tidak menjadi alasan untuk bekerja setengah hati. Justru sebaliknya, ia menuntut pembuktian yang lebih keras. Setiap keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan, setiap kebijakan harus berpihak pada kemajuan institusi, dan setiap langkah harus menunjukkan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada orang muda tidaklah sia-sia.

Baca Juga:  Wabup Meranti Hadiri Riau Economic Forum 2026

Ada satu hal yang menurut saya indah: bidang kewirausahaan yang kini saya bina di kampus seakan mempertemukan saya kembali dengan masa lalu. Semangat seorang penjual nasi kuning kini hadir dalam bentuk yang lain, yaitu mendorong mahasiswa untuk berani berwirausaha, berani mandiri, dan berani menciptakan peluang, bukan sekadar menunggunya.
Merobohkan Tembok Antrean Usia
Masyarakat kita, dengan segala kebaikannya, sering kali membangun tembok yang tidak terlihat: tembok antrean usia. Anak muda diminta menunggu giliran.
Diminta bersabar. Diminta tidak “melangkahi” yang lebih tua. Akibatnya, banyak potensi besar terkubur dalam ruang tunggu yang terlalu panjang.

Saya sangat menghormati pengalaman para senior. Pengalaman adalah guru yang mahal, dan saya pun terus belajar dari para pendahulu. Namun menghormati senior tidak sama dengan memadamkan api di dalam diri sendiri. Melangkah lebih dulu bukan berarti meninggalkan yang tua, melainkan berlari bersama dengan semangat yang lebih kencang.

Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah. Bonus demografi ada di depan mata, dan cita-cita Indonesia Emas 2045 menanti untuk diwujudkan. Kesempatan emas ini hanya akan bermakna bila anak muda tidak sekadar tercatat sebagai penduduk usia produktif, melainkan benar-benar tampil sebagai pelaku perubahan: belajar setinggi-tingginya, memimpin lebih awal, dan berkarya tanpa menunggu restu usia.

“Melangkah lebih dulu bukan berarti meninggalkan yang tua, melainkan berlari bersama dengan semangat yang lebih kencang.”
Untuk Pemuda Kalimantan Timur dan Indonesia
Kepada anak-anak muda di Kalimantan Timur yang kini menjadi beranda Ibu Kota Nusantara, dan di seluruh penjuru negeri, saya ingin menyampaikan pesan dari hati.
Jangan menunggu tua untuk berani. Jika ada kesempatan melanjutkan kuliah hingga magister dan doktor, raihlah sekarang. Jika amanah kepemimpinan datang kepadamu, sambutlah dengan rendah hati dan buktikan dengan kerja nyata. Jika kamu memulai dari tempat yang sederhana, dari warung kecil, dari dagangan di pinggir jalan, dari keluarga yang serba terbatas, jangan pernah malu. Justru dari sanalah watak pejuang ditempa.

Namun keberanian harus berjalan bersama kesiapan. Bekali dirimu dengan integritas, karena jabatan tanpa integritas hanya akan menjadi bencana. Bekali dirimu dengan kompetensi, karena semangat tanpa kemampuan akan cepat padam. Dan bekali dirimu dengan kerendahan hati, karena orang yang berhenti belajar sesungguhnya telah berhenti menjadi muda.

Kepada institusi, baik kampus, pemerintah, maupun dunia usaha, saya juga ingin mengajak: bukalah pintu lebih lebar bagi anak muda. Ukurlah seseorang dari kapasitas, integritas, dan rekam jejaknya, bukan semata dari angka usianya. Kepercayaan yang kita berikan kepada generasi muda hari ini adalah investasi terbesar bagi masa depan bangsa.

Sumpah Kita Hari Ini
Para pemuda 1928 telah menunaikan tugas sejarahnya. Mereka mempersatukan bangsa yang tercerai-berai. Tugas kita hari ini berbeda, tetapi tidak kalah mulia: memajukan bangsa yang telah mereka satukan. Medan perjuangan kita adalah ruang kuliah, laboratorium, ruang usaha, dan meja-meja pengambilan keputusan.
Jika pemuda 1928 bersumpah untuk bersatu, maka biarlah pemuda hari ini bersumpah untuk berani: berani belajar setinggi langit, berani memimpin sejak dini, dan berani mengambil peran bagi kemajuan Indonesia.

Saya pernah menjadi seorang anak muda yang berjualan nasi kuning. Hari ini saya berdiri di sini untuk mengatakan kepada kalian: jika saya bisa, kalian pun pasti bisa. Bahkan kalian bisa melangkah jauh lebih tinggi.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Pemuda berani, Indonesia maju!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menguras Air Mata,Film Pendek “Senyum yang Kembali di Bawah Tiang Bendera”Angkat Perjuangan Siswi Pengidap Kangker
PP ISMAHI Desak Negara Ungkap Pelaku dan Dalang Dugaan Penyadapan Presiden!
Dugaan Penyadapan Mantan Kapolri Listyo Sigit Menguak, 43 Nama Tokoh Disebut Masuk Daftar yang Beredar
Puteri Batik Cilik Indonesia 2026 Sukses Digelar, Libatkan Peserta dari Berbagai Daerah
Dandim 0502/JU Bersama Kapolres dan Pemkot Jakarta Utara Dampingi Lanjutan Penertiban Bangunan di Sepanjang Rel Kampung Bahari
Seminar Nasional Universitas Trisakti Bahas Masa Depan Otsus dan IKN, Ini Harapan Akademisi
Dandim 0502/JU Bersama Forkopimko Jakarta Utara Dampingi Kapolda Metro Jaya Tinjau Lokasi Pasca Penertiban di Kampung Bahari
TECNO MEGABOOK K15S Resmi Hadir, Tawarkan Layar 15,6 Inci dan Performa AMD Ryzen 5
Berita ini 28 kali dibaca

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 00:41 WIB

Menguras Air Mata,Film Pendek “Senyum yang Kembali di Bawah Tiang Bendera”Angkat Perjuangan Siswi Pengidap Kangker

Kamis, 5 November 2026 - 13:16 WIB

PP ISMAHI Desak Negara Ungkap Pelaku dan Dalang Dugaan Penyadapan Presiden!

Rabu, 4 November 2026 - 23:31 WIB

Dugaan Penyadapan Mantan Kapolri Listyo Sigit Menguak, 43 Nama Tokoh Disebut Masuk Daftar yang Beredar

Rabu, 4 November 2026 - 20:26 WIB

Puteri Batik Cilik Indonesia 2026 Sukses Digelar, Libatkan Peserta dari Berbagai Daerah

Rabu, 4 November 2026 - 17:57 WIB

Dandim 0502/JU Bersama Kapolres dan Pemkot Jakarta Utara Dampingi Lanjutan Penertiban Bangunan di Sepanjang Rel Kampung Bahari

Berita Terbaru