Gunung Padang: Situs Megalitik Nusantara dalam Sorotan Penelitian Modern, Perdebatan Ilmiah, dan Jejak Waktu Penelitian

La Maseng

- Penulis

Minggu, 22 Februari 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ini merupakan kolase dokumentasi ilmiah penelitian Gunung Padang yang menampilkan berbagai sudut situs megalitik serta aktivitas ekskavasi arkeologi di lapangan.

i

Foto ini merupakan kolase dokumentasi ilmiah penelitian Gunung Padang yang menampilkan berbagai sudut situs megalitik serta aktivitas ekskavasi arkeologi di lapangan.

CIANJUR, JAWA BARAT —

Penulis : La Maseng*

Gunung Padang kembali menjadi pusat perhatian dunia ilmiah setelah serangkaian penelitian modern dalam beberapa tahun terakhir memunculkan perdebatan baru mengenai usia dan struktur situs megalitik terbesar di Asia Tenggara tersebut. Berbagai studi geofisika dan publikasi ilmiah terbaru menempatkan Gunung Padang sebagai salah satu objek penelitian arkeologi paling aktif sekaligus paling kontroversial di Indonesia saat ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terletak di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Gunung Padang dikenal sebagai situs megalitik berupa teras berundak yang tersusun dari batu andesit. Struktur bertingkat yang tampak di permukaan selama ini diyakini sebagai hasil aktivitas manusia prasejarah. Namun penelitian modern menunjukkan kemungkinan bahwa struktur tersebut tidak hanya berada di permukaan, melainkan berlapis hingga jauh ke dalam tanah.

Penelitian Geofisika Mengungkap Struktur Bawah Permukaan

Sejak awal 2010-an dan semakin intensif dalam beberapa tahun terakhir, tim peneliti menggunakan berbagai metode ilmiah modern, termasuk survei geolistrik, radar penembus tanah, serta pemindaian seismik. Hasilnya menunjukkan adanya beberapa lapisan struktur di bawah permukaan bukit yang memiliki karakteristik berbeda.

Sebagian peneliti menginterpretasikan lapisan tersebut sebagai konstruksi bertingkat yang dibangun secara bertahap dalam periode waktu yang sangat panjang. Berdasarkan analisis tertentu, bagian terdalam situs bahkan diusulkan berasal dari masa yang jauh lebih tua dibandingkan peradaban megalitik yang selama ini dikenal di Asia Tenggara.

Temuan ini memunculkan hipotesis bahwa Gunung Padang mungkin bukan sekadar situs megalitik permukaan, melainkan struktur besar yang telah mengalami fase pembangunan berulang sepanjang sejarah prasejarah.

Publikasi Ilmiah dan Perdebatan Internasional

Pada 2023, hasil penelitian Gunung Padang menjadi perhatian global setelah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional. Studi tersebut menyampaikan kemungkinan bahwa struktur bawah permukaan situs memiliki usia yang sangat tua dan menunjukkan indikasi rekayasa manusia pada kedalaman tertentu.

Baca Juga:  Kasus K Sorong dan Tantangan Implementasi PPRA di Era Viral

Publikasi ini segera memicu respons luas dari komunitas ilmiah dunia. Sejumlah peneliti mendukung perlunya penelitian lanjutan untuk menguji hipotesis tersebut, sementara lainnya menyampaikan kritik metodologis, terutama terkait interpretasi data geologi dan penanggalan lapisan tanah.

Perdebatan akademik ini berlangsung terbuka dan menjadi bagian dari proses ilmiah yang normal, di mana klaim besar memerlukan verifikasi ketat melalui penelitian independen dan pengujian berulang.

Tim Peneliti dan Lembaga yang Terlibat

Penelitian modern Gunung Padang melibatkan tim multidisiplin yang terdiri dari ahli geologi, arkeologi, dan geofisika dari berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia.

Salah satu tokoh utama penelitian adalah Danny Hilman Natawidjaja, ahli geologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang meneliti struktur bawah permukaan situs, penanggalan lapisan tanah, serta kemungkinan adanya konstruksi bertingkat di dalam bukit.

La Maseng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mediasi Putusan PTUN Sekdes Tlogorejo Buntu, Kuasa Hukum Ibu Riri Siap Ajukan Eksekusi
OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa
Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)
Snowball Business Model Nandan Limakrisna: Solusi Ekonomi Berbasis Kepercayaan di Era Kapitalisme
Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi
Konflik Seleksi Perangkat Desa Purwasaba: Kades Hoho dan LSM Harimau Bersitegang, Posbakumdes Tawarkan Mediasi
Oligarkinomics vs Snowball Business Model: Ketika Kejujuran Menjadi Kekuatan Ekonomi
Undang-Undang Pers dan Regulasi Terkait: Fondasi Hukum bagi Kebebasan dan Tanggung Jawab Media

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 12:26 WIB

Mediasi Putusan PTUN Sekdes Tlogorejo Buntu, Kuasa Hukum Ibu Riri Siap Ajukan Eksekusi

Rabu, 1 April 2026 - 07:53 WIB

OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:55 WIB

Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)

Jumat, 20 Maret 2026 - 15:35 WIB

Snowball Business Model Nandan Limakrisna: Solusi Ekonomi Berbasis Kepercayaan di Era Kapitalisme

Rabu, 18 Maret 2026 - 12:37 WIB

Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi

Berita Terbaru