Kajian arkeologi melibatkan Ali Akbar dari Universitas Indonesia, yang meneliti aspek budaya prasejarah, struktur megalitik permukaan, serta kemungkinan fungsi ritual situs.
Selain itu, penelitian juga melibatkan arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (ARKENAS) yang melakukan kajian stratigrafi, ekskavasi terbatas, dan analisis kronologi situs. Berbagai ahli geofisika dan geologi dari lembaga penelitian nasional dan universitas turut berperan dalam pemetaan bawah tanah menggunakan metode geolistrik, seismik, dan radar penembus tanah.
Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi pendekatan utama dalam memahami kompleksitas Gunung Padang yang melibatkan unsur geologi alami sekaligus kemungkinan rekayasa manusia prasejarah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Timeline Penelitian Gunung Padang
- 1890 — Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan oleh peneliti Belanda sebagai lokasi megalitik di Jawa Barat.
- 1979 — Penelitian arkeologi awal dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, mengidentifikasi struktur teras batu dan fungsi ritual prasejarah.
- 2010–2014 — Penelitian intensif multidisiplin dimulai, termasuk survei geofisika dan pemetaan struktur bawah permukaan.
- 2014–2019 — Pengujian lanjutan terhadap lapisan tanah dan batu dilakukan untuk memahami kronologi pembentukan situs.
- 2020–2022 — Pengembangan metode pemindaian bawah tanah dan analisis data geologi yang lebih detail.
- 2023 — Publikasi ilmiah internasional memicu perhatian global dan perdebatan akademik mengenai usia dan struktur situs.
- 2024–sekarang — Penelitian lanjutan dan evaluasi ilmiah terus berlangsung untuk memverifikasi interpretasi sebelumnya.
Penelitian Masih Berlangsung
Hingga kini, Gunung Padang masih menjadi objek penelitian aktif. Survei lanjutan dilakukan untuk membedakan secara lebih jelas antara struktur alami hasil proses geologi dan kemungkinan struktur buatan manusia. Analisis sedimen, pemetaan bawah tanah, serta pengujian material batu terus dilakukan secara bertahap.
Para peneliti menegaskan bahwa kesimpulan final mengenai asal-usul dan usia keseluruhan situs belum dapat ditetapkan. Kompleksitas struktur bawah tanah dan keterbatasan penggalian menjadi tantangan utama dalam proses penelitian.
Makna bagi Sejarah Nusantara
Terlepas dari perdebatan yang masih berlangsung, Gunung Padang memiliki posisi penting dalam kajian prasejarah Indonesia. Situs ini menunjukkan bahwa wilayah Nusantara menyimpan warisan budaya megalitik yang kompleks dan berpotensi memberikan pemahaman baru tentang perkembangan teknologi, organisasi sosial, dan praktik ritual manusia purba di kawasan Asia Tenggara.
Jika penelitian lanjutan mampu mengungkap struktur bawah tanah secara lebih menyeluruh, Gunung Padang berpotensi menjadi salah satu situs arkeologi paling signifikan dalam studi peradaban awal manusia.
Untuk saat ini, Gunung Padang tetap menjadi simbol pencarian ilmiah yang belum selesai — sebuah situs kuno yang masih menyimpan pertanyaan besar tentang masa lalu yang terus ditelusuri oleh para peneliti modern.
——–
*Penulis yang lebih dikenal dengan nama panggilan Alam Massiri adalah Wartawan Muda dengan No. Sertifikat : 31254-UPDM/Wda/DP/X/2025/01/01/76, dan saat ini menjabat sebagai Sekretaris Wilayah Media Independen Online (MIO) Indonesia Provinsi DKI Jakarta
Jakarta, 22 Februari 2026
- OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa - 01/04/2026
- Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak, 3,39 Juta Kendaraan Kembali ke Jabotabek, Travoy Jadi Andalan Pemudik - 24/03/2026
- Undang-Undang Pers dan Regulasi Terkait: Fondasi Hukum bagi Kebebasan dan Tanggung Jawab Media - 16/03/2026
Halaman : 1 2





















