Penulis : La Maseng
Terorisme merupakan isu yang sensitif, kompleks, dan berdampak luas terhadap keamanan serta kondisi psikologis masyarakat. Dalam situasi seperti ini, media memegang peran ganda: menyampaikan informasi yang akurat sekaligus menjaga ketenangan ruang publik. Karena itu, Pedoman Pemberitaan Terorisme disusun sebagai rambu etik agar pemberitaan tidak justru memperkuat tujuan pelaku teror.
Pedoman ini dirumuskan melalui kolaborasi antara aparat penegak hukum, akademisi, dan Dewan Pers. Tujuannya adalah membangun standar pemberitaan yang informatif, proporsional, dan bertanggung jawab, tanpa mengorbankan prinsip kebebasan pers sebagai pilar demokrasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengapa Pedoman Ini Diperlukan
Tindakan terorisme tidak hanya menimbulkan korban fisik, tetapi juga dirancang untuk menciptakan ketakutan yang meluas. Efek psikologis itulah yang sering menjadi sasaran utama. Dalam konteks ini, pemberitaan yang berlebihan, dramatis, atau sensasional dapat tanpa disadari memperbesar dampak yang diinginkan pelaku.
Media yang menampilkan propaganda, simbol, atau pesan kelompok teroris secara berulang berisiko menjadi bagian dari strategi komunikasi mereka. Karena itu, pedoman ini menegaskan bahwa jurnalisme tidak boleh memberi panggung bagi ideologi kekerasan.
Selain itu, detail teknis mengenai metode serangan, perakitan alat, atau strategi operasional tertentu berpotensi ditiru. Pembatasan informasi semacam ini bukan bentuk sensor, melainkan langkah preventif demi kepentingan keselamatan publik.
Prinsip-Prinsip Utama Pemberitaan Terorisme
Pertama, akurasi dan verifikasi. Informasi harus bersumber jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam situasi krisis, spekulasi dan rumor berkembang cepat. Wartawan wajib menahan diri sampai data terkonfirmasi.
Kedua, proporsionalitas. Pemberitaan harus disajikan secara seimbang tanpa dramatisasi yang berlebihan. Judul, ilustrasi visual, dan pilihan diksi harus dihindarkan dari nada yang memperbesar ketakutan.
Ketiga, tidak memuat detail operasional yang sensitif. Media tidak perlu menjelaskan secara rinci teknik, bahan, atau taktik yang digunakan dalam aksi teror karena berpotensi menginspirasi tindakan serupa.
- OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa - 01/04/2026
- Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak, 3,39 Juta Kendaraan Kembali ke Jabotabek, Travoy Jadi Andalan Pemudik - 24/03/2026
- Undang-Undang Pers dan Regulasi Terkait: Fondasi Hukum bagi Kebebasan dan Tanggung Jawab Media - 16/03/2026
Halaman : 1 2 Selanjutnya





















