“Setiap kali terjadi gagal panen, faktor cuaca sering dijadikan kambing hitam. Padahal yang dibutuhkan adalah pembenahan secara sistemik, menyeluruh dan solusi yang permanen,” ujarnya.
Barang Modal dan Teknologi
Lebih lanjut, Silaen menyinggung impor barang modal seperti mesin dan teknologi tinggi. Menurutnya, kebutuhan tersebut wajar dalam proses pembangunan industri dan infrastruktur. Namun ia mengingatkan agar kebijakan tidak berhenti pada jargon semata.
“Secara teori, membangun pabrik dan infrastruktur memang membutuhkan mesin berat dan teknologi tinggi. Tapi harus ada peta jalan yang jelas agar kita tidak selamanya bergantung pada impor,” katanya.
Sektor Energi
Dalam sektor energi, Silaen mengingatkan bahwa Indonesia pernah menjadi eksportir minyak dan anggota OPEC. Kini, Indonesia berstatus net importer minyak. Sementara konsumsi bahan bakar terus meningkat, kapasitas kilang dalam negeri belum memadai untuk memenuhi kebutuhan secara penuh.
“Ketergantungan ini tidak bisa dibiarkan tanpa strategi jangka panjang. Kalau tidak, tekanan terhadap neraca perdagangan akan terus berulang,” jelasnya.
Efisiensi dan Biaya Terselubung
Di sisi lain, Silaen mengakui bahwa dalam pasar global, beberapa barang impor memang lebih murah karena diproduksi dalam skala besar. Namun ia juga menyinggung adanya biaya-biaya tinggi dalam praktik impor yang kerap menjadi sorotan publik.
“Secara teori, impor bisa lebih efisien dari sisi harga dan kualitas. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata terhadap berbagai biaya tambahan yang membuat sistem ini tidak sepenuhnya transparan,” tandas Silaen.
Ia menegaskan, yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar pembatasan impor, melainkan strategi besar penguatan industri hulu, perbaikan tata kelola, serta keberanian mengambil keputusan jangka panjang demi kemandirian ekonomi nasional. (*)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Halaman : 1 2





















