Detikberita.co.id KEDIRI — Perjalanan panjang dalam mempelajari hening, semedi, topo broto, olah napas, dan disiplin diri membawa Abdul Latif pada satu kesimpulan: laku batin seharusnya membuat seseorang semakin jernih, membumi, dan bertanggung jawab terhadap kehidupannya.
Warga Kediri yang dikenal publik sebagai Guru Sabdo Roso itu kemudian mengembangkan Nafas Batin sebagai ruang belajar yang memadukan olah napas, meditasi, olah rasa, serta piwulang dan kearifan Jawa.
Perjalanan Abdul Latif mengenal berbagai bentuk laku telah berlangsung sekitar 15 tahun. Menurutnya, spiritualitas bukan tentang mengejar sensasi atau merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain. Ukuran sebuah laku justru terlihat ketika seseorang mampu mengelola emosi, mengenali dorongan ego, mengambil keputusan dengan lebih jernih, serta menjaga tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Semakin dalam seseorang belajar, semestinya semakin mampu mengenali dirinya dan semakin bertanggung jawab terhadap hidupnya. Laku bukan untuk membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.”
*Dari Website Menjadi Ekosistem Pembelajaran*
Nafas Batin pada awalnya hadir melalui website sebagai ruang berbagi tulisan dan materi pembelajaran. Dalam perkembangannya, ekosistem tersebut tumbuh menjadi komunitas, ruang pendampingan, materi meditasi dan olah napas, pembelajaran digital, serta aplikasi yang membantu pengguna menjalani latihan secara lebih terstruktur.
Bagi Guru Sabdo Roso, teknologi tidak perlu dipertentangkan dengan kearifan tradisi. Perangkat digital dapat menjadi jembatan agar pengetahuan dan latihan yang dahulu banyak diperoleh melalui pertemuan langsung kini dapat dipelajari melalui format yang lebih mudah dijangkau.
“Teknologi hanyalah wadah. Pengetahuan bisa kita baca melalui layar, tetapi kejernihan tetap harus dilatih dari dalam diri dan dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari.”
*Kediri, Kearifan Jawa, dan Generasi Digital*
Sebagai warga Kediri, Abdul Latif melihat kearifan Jawa tetap memiliki relevansi di tengah perubahan zaman. Nilai seperti hening, eling, kejernihan rasa, dan keteguhan dalam laku dinilainya dapat disampaikan kembali dengan bahasa dan media yang lebih dekat dengan generasi digital.
Ia juga menekankan bahwa pendampingan batin seharusnya tidak menciptakan ketergantungan kepada pembimbing. Tujuannya adalah membantu seseorang semakin mampu mengenali, menata, dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
“Zaman boleh berubah, alat boleh berubah, tetapi manusia tetap perlu belajar mengenali dirinya. Selama manusia masih memiliki pikiran, rasa, keinginan, dan ego, latihan untuk kembali eling akan selalu relevan.”
- Siap Bongkar Dalang Teror Pembunuhan di Desa Korup, Film “Lobang Buaya” Rilis Trailer dan Poster Menuju Tayang 1 Oktober - 29/08/2026
- Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan - 29/08/2026
- Merdeka Stunting 2026, Pegadaian dan POGI Perkuat Pencegahan Stunting Sejak Masa Kehamilan - 27/08/2026























