Peringati Hari Lahir Pancasila 2026, Apandi Tondowatu : Nilai-Nilai Pancasila Hanya Akan Hidup Melalui Sistem yang Adil dan Beradab

Apandi Tondowatu

- Penulis

Selasa, 2 Juni 2026 - 11:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

*Peringati Hari Lahir Pancasila 2026, Apandi Tondowatu : Nilai-Nilai Pancasila Hanya Akan Hidup Melalui Sistem yang Adil dan Beradab*

 

JAKARTA, 1 Juni 2026 — Dalam momentum peringatan Hari Lahir Pancasila, Apandi Tondowatu menegaskan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila tidak akan terwujud secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara apabila tidak didukung oleh sistem yang adil, beradab, profesional, dan berlandaskan hukum.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Apandi Tondowatu Pancasila sesungguhnya mengandung nilai-nilai luhur yang bersumber dari adat istiadat Nusantara dan nilai-nilai agama yang telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat Indonesia sejak lama.

“Di dalam Pancasila terdapat nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan bangsa, yaitu nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Keadilan, Keadaban, Persatuan, Kerakyatan, Kepemimpinan, Kehikmatan, Kebijaksanaan, Permusyawaratan, Keterwakilan, dan Keadilan Sosial. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi jiwa dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Apandi.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa nilai-nilai tersebut hanya akan menjadi slogan apabila tidak diwujudkan melalui sistem yang benar dan berkeadilan.

“Nilai-nilai baik di dalam Pancasila tidak akan bermakna dan tidak akan terwujud apabila sistem yang menjalankannya bobrok. Sebaik apa pun nilai yang dimiliki suatu bangsa, tanpa sistem yang kuat dan adil, maka pelaksanaannya akan bergantung pada kehendak pribadi pemimpin semata,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan rumah tangga, organisasi, masyarakat, maupun negara, manusia membutuhkan kepastian hukum dan kepastian tata kelola. Oleh karena itu, sistem memiliki peran strategis sebagai instrumen pengendali yang memastikan seluruh elemen berjalan sesuai aturan yang telah disepakati bersama.

Menurutnya, sebuah bangsa tidak boleh menggantungkan masa depannya hanya pada figur pemimpin. Sebab ketika sistem tidak berjalan dengan baik, maka keberlangsungan organisasi, pemerintahan, maupun negara akan sangat bergantung pada kualitas individu yang memimpin.

“Jika pemimpinnya baik, mungkin keadaan akan berjalan baik. Namun jika pemimpinnya buruk, maka kerusakan akan mudah terjadi. Karena itu yang harus dibangun adalah sistem yang mampu memaksa setiap orang tetap berada di jalur nilai-nilai Pancasila,” katanya.

Dalam pemaparannya, Wardi Jien juga mengutip berbagai pandangan para pakar manajemen dunia yang menempatkan sistem sebagai faktor utama keberhasilan sebuah organisasi maupun negara.

Ia menjelaskan bahwa sosiolog dan ahli administrasi modern Max Weber menegaskan pentingnya sistem birokrasi yang rasional, impersonal, dan tidak berpihak. Menurut Weber, sistem harus mampu berdiri di atas kepentingan individu agar keadilan dapat ditegakkan secara konsisten.

Baca Juga:  Imlek Festival 2026 Resmi Dimulai di Lapangan Banteng, UMKM dan Pertunjukan Budaya Ramaikan Hari Pertama

Sementara itu, pakar manajemen perilaku Mary Parker Follett menekankan pentingnya the law of the situation, yaitu kepatuhan kepada aturan dan sistem yang telah disepakati bersama, bukan kepada individu tertentu.

Sedangkan tokoh manajemen mutu dunia W. Edwards Deming berpendapat bahwa sebagian besar kegagalan dalam organisasi berasal dari sistem yang buruk, bukan semata-mata kesalahan individu.

Mengacu pada pandangan tersebut, Apandi tondowatu menilai bahwa kerusakan sistem akan menimbulkan dampak yang sangat serius bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia menyebut sedikitnya terdapat tiga konsekuensi besar yang dapat muncul akibat kebobrokan sistem, yaitu lahirnya anarki moral dan hawa nafsu karena lemahnya penegakan etika, hilangnya kepercayaan publik terhadap hukum dan institusi negara, serta kehancuran institusional yang menyebabkan berbagai krisis sosial, ekonomi, maupun politik.

“Ketika hukum tidak lagi ditegakkan secara adil, masyarakat akan kehilangan kepercayaan. Ketika aturan hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka krisis kepercayaan akan tumbuh. Jika dibiarkan, hal tersebut dapat mengancam persatuan dan ketahanan bangsa,” ujarnya.

Oleh sebab itu, ia mendorong agar seluruh elemen bangsa terus memperkuat sistem manajemen pemerintahan dan kelembagaan yang profesional, proporsional, transparan, berkualitas, serta berlandaskan prinsip keadilan universal.

Menurutnya, sistem yang baik berfungsi sebagai rem moral yang mengarahkan manusia untuk memanfaatkan akal budi, etika, dan tanggung jawab sosial demi kemaslahatan bersama.

“Keutuhan dan kedaulatan bangsa hanya dapat terjaga apabila seluruh komponen bangsa dipandu oleh sistem yang adil dan berwibawa. Sistem harus mampu mengarahkan semua pihak menuju tujuan yang sama, yaitu kehidupan yang berketuhanan, berperikemanusiaan, saling bermanfaat, serta menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.

menjadi momentum refleksi bersama bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak cukup hanya dengan seremonial, melainkan harus diwujudkan melalui penguatan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam praktik nyata demi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, adil, makmur, dan bermartabat.(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polres Jakpus Amankan Tiga Terduga Pelaku Narkoba Saat Operasi Cipta Kondisi Dini Hari
Patroli Brimob PMJ dan Polres Amankan 3 Terduga Pengguna Sabu Saat Patroli Dini Hari di Jakarta Utara
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas
KNPI Bombana Kecam Dugaan Tindakan Represif Kapolres Saat Pengamanan Aksi Mahasiswa
KOWANI Tegaskan KLB yang Mengatasnamakan Organisasi Tidak Memiliki Dasar Konstitusional
Jakarta Fair Kemayoran 2026 Bidik 6 Juta Pengunjung
ISMAHI Tegaskan Komitmen Kawal Pemerintahan Secara Kritis Sambil Menjaga Stabilitas Negara
Noel Akui Kesalahan dan Menyesal

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:32 WIB

Polres Jakpus Amankan Tiga Terduga Pelaku Narkoba Saat Operasi Cipta Kondisi Dini Hari

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:30 WIB

Patroli Brimob PMJ dan Polres Amankan 3 Terduga Pengguna Sabu Saat Patroli Dini Hari di Jakarta Utara

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:49 WIB

Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas

Jumat, 5 Juni 2026 - 06:53 WIB

KOWANI Tegaskan KLB yang Mengatasnamakan Organisasi Tidak Memiliki Dasar Konstitusional

Kamis, 4 Juni 2026 - 23:59 WIB

Jakarta Fair Kemayoran 2026 Bidik 6 Juta Pengunjung

Berita Terbaru

Artikel

Luar Biasa Joe Thunder Ciptakan Lagu Untuk 38 Provinsi

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:53 WIB