Balikpapan, 12 Agustus 2026
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia harus tetap optimistis menghadapi dinamika perekonomian, termasuk di tengah kebijakan efisiensi fiskal pemerintah. Kondisi tersebut hendaknya tidak hanya dipandang sebagai tantangan, tetapi juga menjadi momentum bagi UMKM untuk melakukan evaluasi, meningkatkan efisiensi usaha, memperkuat inovasi, serta menemukan model bisnis baru yang lebih adaptif terhadap perubahan pasar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dr. Indrayani, M.Pd., Wakil Rektor II Universitas Balikpapan sekaligus akademisi dan pakar kewirausahaan, menilai UMKM memiliki kemampuan adaptasi yang kuat karena sebagian besar pelaku usaha berangkat dari kreativitas, kebutuhan pasar, dan kemampuan membaca peluang. Menurutnya, ketika terjadi perubahan daya beli maupun pola belanja masyarakat, pelaku UMKM harus mampu mengubah strategi tanpa kehilangan kualitas produk dan kepercayaan konsumen.
“UMKM jangan hanya berpikir bagaimana bertahan, tetapi bagaimana bisa naik kelas. Efisiensi harus dijadikan momentum untuk mengelola usaha secara lebih cerdas, produktif, dan kreatif. Pelaku UMKM harus berani mencari peluang baru di tengah perubahan ekonomi,” ujar Dr. Indrayani.
Menurutnya, efisiensi fiskal memang dapat memberikan perubahan terhadap pola belanja pemerintah maupun aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan pengadaan dan konsumsi. Namun, UMKM tidak boleh menggantungkan pertumbuhan usahanya hanya pada belanja pemerintah. Diversifikasi pasar, penguatan pelanggan langsung, pemasaran digital, serta pengembangan produk menjadi strategi penting agar UMKM memiliki sumber pendapatan yang lebih beragam.
Dr. Indrayani juga menekankan pentingnya ekonomi kreatif sebagai salah satu pendekatan yang dapat memperkuat ketahanan UMKM. Ia merujuk pada pemikiran John Howkins dalam buku The Creative Economy: How People Make Money from Ideas, yang menempatkan ide dan kreativitas sebagai sumber penciptaan nilai ekonomi. Howkins menekankan bahwa kreativitas tidak berhenti pada munculnya sebuah ide, tetapi bagaimana ide tersebut dikembangkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
“John Howkins mengajarkan kepada kita bahwa ide dapat menjadi aset ekonomi. Jadi, UMKM tidak harus selalu menang dengan modal yang besar. Mereka bisa menang melalui ide yang berbeda, produk yang unik, pelayanan yang lebih baik, cerita produk yang kuat, dan kemampuan mengubah kreativitas menjadi nilai ekonomi,” jelasnya. Konsep tersebut relevan bagi UMKM karena kreativitas dapat diterapkan mulai dari desain produk, kemasan, branding, pemasaran, hingga model bisnis.
Dalam perspektif Howkins, pelaku ekonomi kreatif juga perlu mampu menciptakan keunikan, memahami nilai kekayaan intelektual, terus belajar, serta mengembangkan dan mengubah ide menjadi aset. Karena itu, UMKM perlu mulai melihat merek, desain, konten, resep, inovasi produk, dan berbagai karya kreatif sebagai bagian dari aset usaha yang harus dikembangkan dan dilindungi.
Lebih lanjut, Dr. Indrayani mendorong UMKM untuk mempercepat transformasi digital. Digitalisasi bukan semata-mata membuka akun media sosial atau berjualan melalui marketplace, tetapi bagaimana teknologi digunakan untuk memahami konsumen, membangun hubungan dengan pelanggan, memperluas pasar, mengelola keuangan, dan membuat keputusan usaha berdasarkan data. Dengan demikian, UMKM dapat bekerja lebih efisien sekaligus meningkatkan daya saing.
Ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, komunitas, dan pelaku UMKM. Perguruan tinggi, menurutnya, tidak cukup hanya menghasilkan teori kewirausahaan, tetapi harus hadir melalui pendidikan, penelitian, pelatihan, pendampingan, inkubasi bisnis, serta pengembangan inovasi yang dapat diterapkan secara nyata oleh pelaku usaha.
“Saya optimistis UMKM Indonesia mampu melewati berbagai tekanan ekonomi. Kuncinya adalah jangan takut terhadap perubahan. Jadikan perubahan sebagai sumber ide, jadikan keterbatasan sebagai pemicu kreativitas, dan jadikan teknologi sebagai alat untuk memperluas peluang. UMKM yang inovatif, efisien, kolaboratif, dan konsisten meningkatkan kualitas akan memiliki daya tahan yang lebih kuat,” pungkas Dr. Indrayani.
Dengan semangat Hari UMKM Nasional 2026, UMKM diharapkan tidak hanya menjadi pelaku ekonomi yang bertahan di tengah perubahan, tetapi menjadi kekuatan utama dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Prinsipnya sederhana: ide yang baik harus diolah menjadi inovasi, inovasi harus menjadi nilai, dan nilai harus mampu menciptakan kesejahteraan.
Dr. Indrayani, M.Pd. Wakil Rektor II Universitas Balikpapan Pakar Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif
“UMKM Kuat, Kreativitas Tumbuh, Ekonomi Tangguh, Indonesia Maju.”
- Armada Sulteng Soroti Kepmen ESDM, Morowali dan Morowali Utara Tidak Masuk Daerah Pengolah - 13/08/2026
- Dr. INDRAYANI: UMKM HARUS OPTIMISTIS DAN KREATIF MENGHADAPI EFISIENSI FISKAL, JANGAN HANYA BERTAHAN TETAPI HARUS NAIK KELAS - 13/08/2026
- Central Gerakan Indonesia Menggugat Desak Bareskrim Usut Tuntas Dugaan BBM Ilegal di Lalonggasu Meeto - 12/08/2026























