Detikberita, JAKARTA, – PT Inti Karya Persada Tehnik (IKPT) memperkuat kiprahnya sebagai kontraktor Engineering, Procurement, and Construction (EPC) di sektor energi terbarukan, khususnya panas bumi (geothermal).
Business Development Director IKPT Bimo Wahono mengatakan, perusahaan telah memiliki pengalaman panjang dalam mengerjakan proyek panas bumi di Indonesia. Kiprah tersebut dimulai pada 1997 melalui proyek geothermal Gunung Salak di Bogor, Jawa Barat.
“IKPT berdiri sejak tahun 1982 dan mulai masuk ke proyek geothermal pada 1997 di Gunung Salak. Sejak saat itu, kami konsisten melanjutkan kegiatan sebagai kontraktor EPC hingga kini menjadi market leader di sektor panas bumi,” ujar Bimo saat ditemui dalam pameran energi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berpengalaman di Sejumlah Proyek
Selama hampir tiga dekade menggarap sektor panas bumi, IKPT telah terlibat dalam sejumlah proyek strategis, antara lain Lahendong, Ulubelu, dan Dieng.
Saat ini, perusahaan juga tengah mengerjakan beberapa proyek yang masih berjalan, di antaranya Wayang Windu, Patuha, Muara Laboh, serta Blawan Ijen.
Untuk proyek Blawan Ijen, IKPT terlibat dalam pengembangan pembangkit dengan teknologi binary terbaru bersama ORMAT untuk Proyek Medco.
Selain proyek panas bumi, IKPT juga mengerjakan proyek pembangkit listrik lainnya. Salah satunya melalui kerja sama dengan PT PP (Persero) Tbk dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Timor 1 dan Sulut 1.
Minta Kebijakan TKDN Sesuai Kondisi Industri
Di tengah pengembangan proyek energi terbarukan, IKPT juga menyoroti tantangan regulasi, terutama terkait penerapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Bimo berharap pemerintah dapat melihat kesiapan industri pendukung di lapangan sebelum menetapkan target TKDN. Menurut dia, target yang tinggi perlu diimbangi dengan kemampuan dan kapasitas produsen lokal.
“Pemerintah sebaiknya lebih turun ke bawah untuk memahami kondisi bisnis saat ini. Penetapan persentase TKDN harus didukung dengan ketersediaan dan kemampuan pabrikan lokal. Jika ditargetkan tinggi tanpa dukungan industri lokal yang siap, nilainya sulit tercapai,” ujarnya.
Menurut Bimo, tantangan pengembangan proyek panas bumi tidak hanya berkaitan dengan regulasi. Kondisi geografis lokasi proyek juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi proses pembangunan.
Sejumlah proyek berada di kawasan pegunungan dan perbukitan dengan akses logistik yang relatif sulit. Mobilisasi peralatan dan material berukuran besar pun membutuhkan perencanaan khusus.
Dalam kondisi tertentu, pengiriman barang berat harus dilakukan pada malam hingga dini hari, sekitar pukul 00.00-04.30 WIB, untuk meminimalkan gangguan terhadap aktivitas masyarakat.
Selain itu, tekanan terhadap tarif listrik turut menjadi tantangan bagi kontraktor EPC. Tarif listrik yang relatif rendah membuat anggaran konstruksi menjadi lebih ketat, sementara pekerjaan proyek panas bumi memiliki tingkat risiko dan kompleksitas yang tinggi.
Membidik Peluang Proyek Baru
Keikutsertaan IKPT dalam pameran energi menjadi salah satu upaya perusahaan memperluas jaringan dan membuka peluang kerja sama dengan pengembang baru.
Bimo mengatakan, IKPT melihat prospek pengembangan panas bumi di Indonesia masih terbuka. Perusahaan berharap dapat terlibat dalam proyek-proyek baru bersama sejumlah pengembang, termasuk PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), PLN, maupun pengembang swasta.
“Harapan kami bisa meraih proyek-proyek baru bersama Pertamina Geothermal Energy (PGE), PLN yang kini agresif masuk ke panas bumi, serta pengembang swasta lainnya,” kata Bimo.























