Detikberita, JAKARTA — Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama organisasi internasional Inerspace dan Geo Energi menjajaki pemanfaatan energi panas bumi secara langsung (direct use) untuk sistem pendingin ruangan di Indonesia.
Pengembangan teknologi ini dinilai memiliki prospek karena Indonesia memiliki iklim tropis dengan suhu relatif hangat sepanjang tahun. Selama ini, pemanfaatan panas bumi secara langsung lebih banyak dikembangkan di negara empat musim untuk kebutuhan pemanasan maupun pendinginan.
Dosen sekaligus peneliti UGM, Dr. Khasani S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng., mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis dalam pengembangan energi panas bumi. Indonesia saat ini menjadi salah satu negara dengan kapasitas produksi listrik panas bumi terbesar di dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, pemanfaatan panas bumi secara langsung untuk kebutuhan nonlistrik dinilai masih belum berkembang secara komersial di Indonesia.
“Selama ini teknologi direct use lebih banyak diterapkan di negara empat musim, baik sebagai pemanas saat musim dingin maupun pendingin saat musim panas,” kata Khasani.
Menurut dia, kondisi iklim Indonesia justru membuka peluang untuk mengembangkan teknologi tersebut sebagai alternatif sistem pendingin ruangan yang lebih ramah lingkungan.
“Di Indonesia yang bersuhu hangat sepanjang tahun, teknologi ini berpotensi dimanfaatkan sebagai alternatif pendingin ruangan yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Masih Tahap Studi Kelayakan
Khasani menjelaskan, kolaborasi UGM bersama Inerspace dan Geo Energi masih berada pada tahap awal. Tim saat ini melakukan studi kelayakan (feasibility study) untuk mengkaji aspek teknis dan potensi penerapan teknologi tersebut di Indonesia.
Tahap berikutnya direncanakan berupa pembangunan pilot project. Proyek percontohan tersebut akan menjadi sarana untuk menguji teknologi sekaligus mengetahui efektivitas penerapannya dalam kondisi di Indonesia.
Apabila hasil studi dan uji coba menunjukkan hasil positif, teknologi tersebut berpeluang dikembangkan pada bangunan dengan skala yang lebih besar, termasuk fasilitas nasional.
“Proyek ini masih dalam tahap awal. Kami memulai dengan feasibility study, kemudian direncanakan membuat pilot project sebagai eksperimen dan uji coba,” kata Khasani.
Belajar dari Negara Asia Tenggara
Pengembangan teknologi direct use panas bumi untuk kebutuhan pendinginan juga mulai dijajaki sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia.
Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan konsep serupa dengan menyesuaikannya terhadap kondisi geografis serta kebutuhan energi nasional.
Khasani mengatakan, pengembangan direct use dapat memperluas pemanfaatan energi panas bumi yang selama ini lebih dikenal sebagai sumber pembangkit listrik.
Menurut dia, pemanfaatan panas bumi tidak seharusnya hanya berorientasi pada pembangkitan listrik. Teknologi direct use dapat menjadi salah satu pilihan untuk memanfaatkan energi panas bumi secara lebih luas dan efisien.
Selain aspek teknologi dan keekonomian, kepastian regulasi juga menjadi faktor penting dalam pengembangan teknologi tersebut.
Khasani berharap pemerintah segera menghadirkan regulasi yang memberikan kepastian hukum bagi pengembang teknologi direct use panas bumi.
“Kami berharap pemerintah dapat segera merampungkan dan mengesahkan regulasi resmi agar para pengembang memiliki payung hukum yang jelas dalam mengomersialkan serta mengembangkan potensi energi ini secara luas,” ujarnya.
Pengembangan direct use panas bumi diharapkan dapat menjadi alternatif pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.























