Detikberita, JAKARTA — Konsultan panas bumi Geo Energies menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lembaga riset asal Amerika Serikat, Project InnerSpace, untuk mengembangkan teknologi pendingin berbasis panas bumi atau geothermal cooling.
Teknologi tersebut kini memasuki tahap uji coba melalui proyek percontohan di lingkungan UGM. Pengembangan ini ditujukan untuk menguji kinerja teknologi sekaligus mengukur potensi penghematan energi yang dapat dihasilkan.
Project Manager sekaligus Senior Geothermal Geologist Geo Energies, Vicky Rai Chandra, mengatakan Project InnerSpace memberikan dukungan pendanaan untuk kegiatan riset, sedangkan Geo Energies dan UGM bertindak sebagai pelaksana di lapangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Riset dasar sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, dan saat ini kami memasuki tahap implementasi uji coba di UGM. Target utama proyek percontohan ini adalah melihat performa sistem serta seberapa besar kita bisa melakukan energy saving,” ujar Vicky saat ditemui di sela-sela pameran panas bumi di Jakarta, Rabu (20/8/2026).
Berpotensi diterapkan di gedung hingga pusat data
Vicky mengatakan, keberhasilan proyek percontohan akan menjadi dasar untuk mengembangkan teknologi tersebut ke skala yang lebih besar.
Pemanfaatannya, kata dia, dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pendinginan pada gedung, kawasan industri hingga pusat data (data center). Wilayah perkotaan dengan kebutuhan pendinginan tinggi, termasuk DKI Jakarta, juga dinilai memiliki potensi untuk menjadi pasar teknologi tersebut.
“Kalau kita bisa pangkas penggunaan energi hingga 50 persen dibanding AC biasa, artinya kita juga memangkas biaya operasional (cost saving) sebesar 50 persen,” kata Vicky.
Ia menambahkan, kebutuhan pendinginan yang terus meningkat membuat efisiensi energi menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan sistem pendingin.
Teknologi geothermal cooling diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem pendingin konvensional yang membutuhkan konsumsi listrik relatif besar.
Regulasi masih menjadi tantangan
Di sisi lain, pengembangan teknologi baru tersebut masih menghadapi tantangan dari aspek regulasi.
Vicky mengatakan, geothermal cooling belum secara spesifik masuk dalam kerangka regulasi yang ada di Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu diselesaikan seiring dengan rencana pengembangan teknologi ke tahap komersial.
“Sistem ini tergolong sangat baru di Indonesia. Saat kita konsultasikan ke regulator, geothermal cooling belum masuk ke regulasi mana pun—baik aturan air tanah maupun geothermal konvensional, karena kita tidak mengekstrak air tanah,” ujarnya.
Geo Energies, lanjut Vicky, terus melakukan komunikasi dengan pemerintah dan regulator untuk mendapatkan kepastian mengenai aspek perizinan dan aturan yang diperlukan.
Selain regulasi, koordinasi dengan Project InnerSpace sebagai mitra internasional juga menghadapi tantangan teknis, salah satunya perbedaan zona waktu dalam pelaksanaan kegiatan riset.
Perluas pemanfaatan panas bumi
Melalui proyek tersebut, Geo Energies berharap pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia dapat berkembang melampaui sektor pembangkitan listrik.
Menurut Vicky, panas bumi memiliki potensi untuk dimanfaatkan secara langsung (direct use) dalam berbagai kebutuhan, termasuk sistem pendinginan.
Pengembangan geothermal cooling juga diharapkan dapat mendukung upaya efisiensi energi serta sejalan dengan arah National Cooling Action Plan.
“Harapannya, ini bisa meningkatkan awareness pelaku industri bahwa geothermal tidak hanya untuk power generation, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk penghematan energi,” tutur Vicky.























