Isu lain yang tak kalah penting adalah efektivitas penerimaan program. Jika sebagian anak tidak mengonsumsi makanan yang diberikan, atau bahkan membuangnya, maka intervensi gizi tidak mencapai tujuannya. Program makan sekolah bukan sekadar soal distribusi, tetapi soal konsumsi dan dampak biologis nyata.
Dalam kebijakan publik, perbedaan antara niat dan hasil sering kali terletak pada detail implementasi. Ambisi nasional membutuhkan fondasi teknis yang kokoh. Tanpa itu, kebijakan berpotensi menghadapi krisis kepercayaan.
Investigasi yang komprehensif dan independen diperlukan untuk menjawab sejumlah pertanyaan kunci:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Apakah standar keamanan pangan diterapkan secara konsisten di seluruh wilayah?
Apakah struktur biaya realistis terhadap kualitas yang diharapkan?
Apakah sistem pengawasan mampu mendeteksi dan memperbaiki masalah secara cepat?
Apakah manfaat gizi benar-benar terukur dan terdokumentasi?
Program sebesar MBG tidak boleh dinilai hanya dari besarnya anggaran atau kuatnya komitmen politik. Ia harus diuji dari data, mutu, dan dampaknya di lapangan.
Jika evaluasi dilakukan secara terbuka dan hasilnya menunjukkan perlunya perbaikan struktural, maka koreksi bukanlah bentuk kelemahan, melainkan tanda kedewasaan tata kelola.
Karena dalam kebijakan sosial berskala nasional, keberanian bukan hanya soal memulai program besar. Keberanian sejati adalah memastikan bahwa setiap rupiah publik benar-benar memberikan manfaat yang sepadan bagi rakyat yang dilayaninya.
——–
*Penulis yang lebih dikenal dengan nama panggilan Alam Massiri adalah Wartawan Muda dengan No. Sertifikat : 31254-UPDM/Wda/DP/X/2025/01/01/76, dan saat ini menjabat sebagai Sekretaris Wilayah Media Independen Online (MIO) Indonesia Provinsi DKI Jakarta
Jakarta, 27 Februari 2026
Halaman : 1 2





















