Sumala: Dari Legenda Desa di Jawa Tengah Menjadi Fenomena Horor Nasional

La Maseng

- Penulis

Senin, 23 Februari 2026 - 09:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : La Maseng*

Legenda urban Sumala kini tidak lagi sekadar cerita misterius yang hidup dalam ingatan masyarakat pedesaan Jawa Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir, kisah ini mengalami transformasi besar—dari cerita rakyat lokal, menjadi fenomena viral di internet, hingga akhirnya masuk ke industri film dan platform streaming global.

Perjalanan Sumala menunjukkan bagaimana legenda tradisional dapat berevolusi di era digital, menjembatani dunia mitos, budaya populer, dan industri hiburan modern.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Asal-Usul Legenda dari Kabupaten Semarang

Sumala dikenal berasal dari wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, khususnya daerah pedesaan terpencil yang masih kuat dengan tradisi lisan. Beberapa cerita mengaitkannya dengan Dusun Randusari di Desa Plumutan, Kecamatan Bancak.

Lingkungan pedesaan yang sunyi, jauh dari keramaian, serta keberadaan hutan dan area terpencil memperkuat atmosfer mistis yang menyelimuti legenda ini. Sejak lama, kisah Sumala dituturkan turun-temurun sebagai bagian dari peringatan sosial sekaligus cerita yang menimbulkan rasa takut.

Gambaran Sosok Sumala dalam Cerita Rakyat

Dalam versi yang paling banyak beredar, Sumala digambarkan sebagai sosok menyerupai anak kecil dengan rambut panjang kusut dan pakaian putih lusuh. Ia sering dikaitkan dengan peristiwa hilangnya anak-anak yang bermain terlalu jauh dari rumah.

Ungkapan Jawa yang sering melekat pada kisah ini adalah:

“Dolan sing adoh… ning ora muleh-muleh.”
(Bermain jauh… tetapi tidak pernah pulang.)

Kalimat tersebut menjadi simbol peringatan bagi anak-anak sekaligus gambaran ketakutan masyarakat terhadap bahaya yang tak terlihat.

Narasi Mitologis yang Berkembang

Seiring waktu, legenda ini berkembang menjadi cerita yang lebih kompleks. Salah satu versi populer menyebutkan bahwa Sumala adalah anak dari pasangan yang lama tidak memiliki keturunan. Sang ibu membuat perjanjian dengan kekuatan gaib agar bisa hamil.

Anak kembar kemudian lahir—Kumala dan Sumala. Namun Sumala dianggap tidak wajar dan akhirnya dibunuh atau disingkirkan. Dari tragedi itulah, menurut cerita, arwahnya kembali sebagai roh yang penuh dendam.

Baca Juga:  Krisis Iran Memanas: Kematian Ali Khamenei Picu Guncangan Nasional, Ancam Stabilitas Regional

Versi ini banyak digunakan dalam cerita viral dan adaptasi film modern, meskipun tidak ada bukti sejarah yang menguatkannya.

Kepercayaan Lokal dan Tradisi Masyarakat

Dalam sejumlah kisah yang beredar, masyarakat setempat disebut pernah melakukan ritual atau memberikan sesaji di tempat tertentu untuk meredakan gangguan yang dikaitkan dengan Sumala. Cerita tentang kematian anak di masa lalu juga sering dihubungkan dengan legenda tersebut.

Namun, tidak terdapat catatan sejarah resmi maupun bukti empiris yang dapat memverifikasi peristiwa tersebut. Keberadaannya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kepercayaan budaya.

Viral di Media Sosial dan Internet

Kebangkitan Sumala di tingkat nasional dipicu oleh thread viral di media sosial yang menceritakan tragedi misterius di sebuah desa terpencil. Cerita tersebut menarik jutaan pembaca dan memicu diskusi luas di berbagai platform digital.

Konten eksplorasi lokasi misterius, diskusi komunitas horor, serta narasi “kisah nyata desa terpencil” membuat legenda ini dikenal luas oleh generasi muda.

La Maseng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa
Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)
Snowball Business Model Nandan Limakrisna: Solusi Ekonomi Berbasis Kepercayaan di Era Kapitalisme
Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi
Oligarkinomics vs Snowball Business Model: Ketika Kejujuran Menjadi Kekuatan Ekonomi
Undang-Undang Pers dan Regulasi Terkait: Fondasi Hukum bagi Kebebasan dan Tanggung Jawab Media
Soemitronomics dari Atas, Snowball Business Model dari Bawah
Pedoman Iklan dan Konten Bersponsor (Native Advertising): Menjaga Batas Tegas antara Informasi dan Promosi

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Rabu, 1 April 2026 - 07:53 WIB

OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:55 WIB

Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)

Jumat, 20 Maret 2026 - 15:35 WIB

Snowball Business Model Nandan Limakrisna: Solusi Ekonomi Berbasis Kepercayaan di Era Kapitalisme

Rabu, 18 Maret 2026 - 12:37 WIB

Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi

Senin, 16 Maret 2026 - 19:01 WIB

Oligarkinomics vs Snowball Business Model: Ketika Kejujuran Menjadi Kekuatan Ekonomi

Berita Terbaru