Penulis : La Maseng*
Legenda urban Sumala kini tidak lagi sekadar cerita misterius yang hidup dalam ingatan masyarakat pedesaan Jawa Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir, kisah ini mengalami transformasi besar—dari cerita rakyat lokal, menjadi fenomena viral di internet, hingga akhirnya masuk ke industri film dan platform streaming global.
Perjalanan Sumala menunjukkan bagaimana legenda tradisional dapat berevolusi di era digital, menjembatani dunia mitos, budaya populer, dan industri hiburan modern.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Asal-Usul Legenda dari Kabupaten Semarang
Sumala dikenal berasal dari wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, khususnya daerah pedesaan terpencil yang masih kuat dengan tradisi lisan. Beberapa cerita mengaitkannya dengan Dusun Randusari di Desa Plumutan, Kecamatan Bancak.
Lingkungan pedesaan yang sunyi, jauh dari keramaian, serta keberadaan hutan dan area terpencil memperkuat atmosfer mistis yang menyelimuti legenda ini. Sejak lama, kisah Sumala dituturkan turun-temurun sebagai bagian dari peringatan sosial sekaligus cerita yang menimbulkan rasa takut.
Gambaran Sosok Sumala dalam Cerita Rakyat
Dalam versi yang paling banyak beredar, Sumala digambarkan sebagai sosok menyerupai anak kecil dengan rambut panjang kusut dan pakaian putih lusuh. Ia sering dikaitkan dengan peristiwa hilangnya anak-anak yang bermain terlalu jauh dari rumah.
Ungkapan Jawa yang sering melekat pada kisah ini adalah:
“Dolan sing adoh… ning ora muleh-muleh.”
(Bermain jauh… tetapi tidak pernah pulang.)
Kalimat tersebut menjadi simbol peringatan bagi anak-anak sekaligus gambaran ketakutan masyarakat terhadap bahaya yang tak terlihat.
Narasi Mitologis yang Berkembang
Seiring waktu, legenda ini berkembang menjadi cerita yang lebih kompleks. Salah satu versi populer menyebutkan bahwa Sumala adalah anak dari pasangan yang lama tidak memiliki keturunan. Sang ibu membuat perjanjian dengan kekuatan gaib agar bisa hamil.
Anak kembar kemudian lahir—Kumala dan Sumala. Namun Sumala dianggap tidak wajar dan akhirnya dibunuh atau disingkirkan. Dari tragedi itulah, menurut cerita, arwahnya kembali sebagai roh yang penuh dendam.
Versi ini banyak digunakan dalam cerita viral dan adaptasi film modern, meskipun tidak ada bukti sejarah yang menguatkannya.
Kepercayaan Lokal dan Tradisi Masyarakat
Dalam sejumlah kisah yang beredar, masyarakat setempat disebut pernah melakukan ritual atau memberikan sesaji di tempat tertentu untuk meredakan gangguan yang dikaitkan dengan Sumala. Cerita tentang kematian anak di masa lalu juga sering dihubungkan dengan legenda tersebut.
Namun, tidak terdapat catatan sejarah resmi maupun bukti empiris yang dapat memverifikasi peristiwa tersebut. Keberadaannya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kepercayaan budaya.
Viral di Media Sosial dan Internet
Kebangkitan Sumala di tingkat nasional dipicu oleh thread viral di media sosial yang menceritakan tragedi misterius di sebuah desa terpencil. Cerita tersebut menarik jutaan pembaca dan memicu diskusi luas di berbagai platform digital.
Konten eksplorasi lokasi misterius, diskusi komunitas horor, serta narasi “kisah nyata desa terpencil” membuat legenda ini dikenal luas oleh generasi muda.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana cerita lokal dapat dengan cepat menjadi konsumsi nasional melalui media digital.
Diangkat ke Film dan Sukses di Bioskop
Momentum terbesar dalam popularitas Sumala terjadi ketika legenda ini diadaptasi menjadi film horor Indonesia yang tayang di bioskop pada 26 September 2024.
Film tersebut mengangkat kisah keluarga yang membuat perjanjian dengan kekuatan gelap hingga melahirkan anak kembar misterius yang menjadi sumber teror. Adaptasi ini memperluas narasi legenda sekaligus memperkenalkan Sumala kepada publik nasional.
Secara komersial, film tersebut sukses besar dengan jumlah penonton mencapai lebih dari 1,4 juta orang di bioskop Indonesia. Pencapaian ini menempatkan Sumala sebagai salah satu fenomena penting dalam industri film horor nasional.
Masuk Platform Streaming Global
Setelah sukses di bioskop, film Sumala kemudian dirilis di platform streaming internasional pada 2025. Langkah ini membuat kisah yang dulunya hanya dikenal di desa Jawa Tengah dapat diakses penonton global.
Transformasi ini menandai perubahan besar: legenda lokal tidak lagi terbatas pada ruang geografis, melainkan menjadi bagian dari budaya populer lintas negara.
Perspektif Antropologi Budaya
Dalam kajian budaya, Sumala memiliki pola khas folklore Asia Tenggara: tragedi keluarga, pelanggaran moral, kelahiran tidak wajar, serta balas dendam dari dunia gaib.
Struktur cerita serupa juga ditemukan dalam berbagai legenda regional lain seperti Pontianak, Palasik, atau Toyol. Cerita-cerita tersebut berfungsi sebagai cara masyarakat menjelaskan kehilangan, ketakutan, dan peristiwa yang sulit dipahami secara rasional.
Dengan demikian, legenda Sumala tidak hanya berfungsi sebagai hiburan horor, tetapi juga sebagai refleksi psikologis dan sosial masyarakat.
Status Kebenaran
Hingga kini, tidak ada bukti ilmiah maupun catatan sejarah resmi yang membuktikan keberadaan Sumala. Ia diakui sebagai legenda urban yang hidup dalam tradisi lisan dan budaya populer, tetapi tidak dapat diverifikasi sebagai fakta nyata.
Meski demikian, dampak sosialnya sangat nyata—mempengaruhi kepercayaan, perilaku masyarakat, dan bahkan industri hiburan.
Penutup
Sumala adalah contoh jelas bagaimana sebuah legenda lokal dapat berevolusi mengikuti zaman. Dari cerita rakyat di desa terpencil, menjadi fenomena viral digital, lalu berkembang menjadi produk budaya massal yang dikonsumsi jutaan orang.
Legenda ini menunjukkan bahwa kekuatan sebuah cerita tidak terletak pada bukti keberadaannya, melainkan pada kemampuannya bertahan, berkembang, dan terus dipercaya.
Dan di era media modern, cerita yang kuat tidak lagi hanya hidup dalam ingatan masyarakat—tetapi juga dalam layar bioskop, platform streaming, dan imajinasi kolektif dunia.
——–
*Penulis yang lebih dikenal dengan nama panggilan Alam Massiri adalah Wartawan Muda dengan No. Sertifikat : 31254-UPDM/Wda/DP/X/2025/01/01/76, dan saat ini menjabat sebagai Sekretaris Wilayah Media Independen Online (MIO) Indonesia Provinsi DKI Jakarta
Jakarta, 22 Februari 2026
- OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa - 01/04/2026
- Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak, 3,39 Juta Kendaraan Kembali ke Jabotabek, Travoy Jadi Andalan Pemudik - 24/03/2026
- Undang-Undang Pers dan Regulasi Terkait: Fondasi Hukum bagi Kebebasan dan Tanggung Jawab Media - 16/03/2026























