Anak Muda di Persimpangan: Indonesia Cemas atau Emas?

Di tengah hiruk-pikuk politik, perang narasi media sosial, dan kegelisahan generasi muda, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh rasa cemas, melainkan oleh kemampuan anak muda untuk berpikir kritis, menjaga moralitas, dan menjadi bagian dari solusi bangsa.

Admin

- Penulis

Rabu, 24 Juni 2026 - 01:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Amirullah Ramadani Yusuf *)

Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Entah kenapa saya tiba-tiba terbangun. Mungkin karena terlalu lelah setelah seharian bergulat dengan pekerjaan dan berbagai urusan yang seolah tak pernah selesai.

Saat masih mencoba mengumpulkan kesadaran, ponsel saya berdering. Seorang sahabat menelepon. Sosok yang, kalau bicara soal pekerjaan, nyaris tidak pernah gagal. Tapi kalau urusan asmara, hidupnya selalu seperti sinetron dengan episode yang tak kunjung tamat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Obrolan kami tidak panjang. Namun cukup untuk membuat kantuk saya hilang dan pikiran mulai berkelana ke mana-mana.

Setelah telepon ditutup, saya membuka TikTok. Niat awalnya cuma mencari hiburan sebentar sebelum tidur lagi. Tapi ternyata algoritma membawa saya pada sebuah video diskusi yang sedang ramai diperbincangkan. Di sana, sejumlah mahasiswa berdebat cukup panas dengan beberapa pejabat negara yang dulunya juga aktivis.

Saya menonton sampai selesai.

Bukan karena perdebatannya luar biasa, melainkan karena video itu seperti memicu kembali kegelisahan yang selama beberapa bulan terakhir terus menumpuk di kepala saya. Ditambah berbagai keluhan dari teman-teman, rekan kerja, hingga orang-orang terdekat yang semakin sering terdengar akhir-akhir ini.

Di titik itu saya mulai bertanya pada diri sendiri: sebenarnya kita sedang menuju ke mana?

Sebagai generasi muda, apakah kita sedang berjalan menuju Indonesia Emas, atau justru tenggelam dalam Indonesia Cemas?

Visi Besar yang Tersandung di Lapangan

Kalau kita melihat situasi hari ini secara jujur, ada paradoks yang cukup menarik.

Di satu sisi, pemerintah membawa sejumlah program besar yang secara konsep memang ditujukan untuk masa depan. Program seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih bukanlah proyek yang hasilnya bisa dipanen besok pagi. Program-program itu dirancang untuk membentuk dampak jangka panjang.

Masalahnya, konsep yang baik tidak selalu diikuti pelaksanaan yang baik.

Di lapangan, berbagai persoalan justru bermunculan. Mulai dari tata kelola yang dinilai belum rapi, komunikasi publik yang membingungkan, hingga kontroversi yang terus bermunculan dan menggerus kepercayaan masyarakat.

Akibatnya, program yang seharusnya menjadi sumber optimisme malah sering berubah menjadi bahan perdebatan.

Ketika Kritik Kehilangan Substansi

Di sisi lain, mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai kelompok kritis juga menghadapi tantangan yang tidak kalah besar.

Kritik tentu penting. Bahkan sangat penting. Demokrasi membutuhkan suara-suara yang berani mengoreksi kekuasaan.

Namun kritik akan kehilangan makna ketika lebih sibuk mengejar viral daripada menawarkan solusi.

Belakangan kita sering melihat bagaimana ruang publik dipenuhi sindiran, olok-olok, dan potongan video yang mudah memancing emosi. Masalahnya, setelah semua teriakan itu selesai, sering kali tidak ada gagasan yang benar-benar membantu menyelesaikan persoalan.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar lahir bukan hanya dari keberanian bersuara, tetapi juga dari kemampuan berpikir jernih dan menawarkan jalan keluar.

Jangan Sibuk Menyalahkan Atas, Lalu Lupa Berkaca

Ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita.

Baca Juga:  Ketika Etika Profesi Ditabrak di Ruang Publik: Kepastian Hukum bagi Pers dan Advokat Harus Berjalan Beriringan

Kita begitu mudah marah kepada pejabat yang korup, birokrat yang tidak becus, atau elite yang dianggap gagal. Namun pada saat yang sama, kita sering menoleransi berbagai bentuk ketidakjujuran yang terjadi di sekitar kita.

Misalnya, orang yang hidup berkecukupan tetapi tetap mencari cara mendapatkan fasilitas untuk warga miskin. Atau mereka yang memanfaatkan celah sistem demi keuntungan pribadi.

Mungkin skalanya tidak sebesar korupsi miliaran rupiah. Tapi secara moral, akar masalahnya sama: menempatkan kepentingan pribadi di atas keadilan.

Kalau kebiasaan seperti ini terus dianggap biasa, jangan heran jika sistem yang kita kritik setiap hari tidak pernah benar-benar berubah.

Perang Narasi di Era Digital

Tantangan berikutnya datang dari derasnya arus informasi.

Hari ini, perang tidak selalu dilakukan dengan senjata. Kadang cukup dengan narasi, opini, dan potongan informasi yang terus diulang hingga dianggap sebagai kebenaran.

Di media sosial, kita sering terjebak memilih kubu sebelum memahami persoalan secara utuh. Kita lebih cepat membagikan video daripada memeriksa data. Lebih mudah marah daripada mencari fakta pembanding.

Akibatnya, ruang diskusi berubah menjadi arena pertengkaran tanpa ujung.

Padahal bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang semua warganya sepakat. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan kemampuan berpikir rasional.

Indonesia Tidak Sesuram yang Dibayangkan

Meski demikian, saya tidak melihat masa depan Indonesia sepenuhnya gelap.

Di tengah segala kegaduhan politik dan pertarungan opini yang setiap hari memenuhi layar ponsel kita, kehidupan nyata terus berjalan.

Orang-orang tetap bekerja. Usaha-usaha kecil tetap buka setiap pagi. Investor masih menanam modal. Ekonomi tetap bergerak. Dan jutaan orang masih berjuang memperbaiki hidup mereka sedikit demi sedikit.

Mungkin Indonesia memang belum sempurna.

Mungkin masih banyak masalah yang harus diselesaikan.

Tetapi terlalu larut dalam rasa cemas juga tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Yang kita butuhkan hari ini bukan optimisme kosong, melainkan kemampuan untuk terus belajar, memperkuat diri, menjaga akal sehat, dan tetap peduli pada sesama.

Karena pada akhirnya, pilihan antara Indonesia Cemas atau Indonesia Emas bukan ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak di media sosial.

Pilihan itu ditentukan oleh jutaan anak muda yang setiap hari memutuskan untuk tetap berpikir jernih, bekerja keras, dan menjadi bagian dari solusi.


Penulis adalah putra kelahiran Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Saat ini ia sedang menempuh studi Ilmu Hukum di salah satu perguruan tinggi di Indonesia, sekaligus menjalani program internship di kantor hukum wilayah Jakarta dan berkiprah sebagai asisten pribadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rocky Gerung Masuk Istana: Akankah Kritik Tetap Bersuara?
Pergantian Kapolri 2026: Dari Era Presisi Listyo Sigit ke Polisi Bersama Masyarakat
Mancing Bersama, Lebih Dari Sekadar Strike’: Empang HUB Gelar Turnamen yang Jadi Ruang Temu Pemancing Lintas Generasi
Pegadaian Kanwil VIII Jakarta 1 Gelar Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dan Berikan Bantuan Wakaf serta Santunan Anak Yatim
HUT ke-3 FORGAS Bali, Perkuat Komitmen Jaga Adat dan Budaya Nusantara
ShopeeVIP+ Hadirkan Pengalaman ‘Sekali Langganan, Dapat Semua’, Semakin Lengkap dengan Akses Netflix
Lewat Voting, 9 Warga Terpilih Jadi Panmus PPPSRS Kalibata City
Kuasa Hukum Sampaikan Keterangan Saksi dalam Laporan Pelanggaran Etik Polri

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:17 WIB

Rocky Gerung Masuk Istana: Akankah Kritik Tetap Bersuara?

Kamis, 1 Oktober 2026 - 02:01 WIB

Pergantian Kapolri 2026: Dari Era Presisi Listyo Sigit ke Polisi Bersama Masyarakat

Senin, 21 September 2026 - 12:59 WIB

Mancing Bersama, Lebih Dari Sekadar Strike’: Empang HUB Gelar Turnamen yang Jadi Ruang Temu Pemancing Lintas Generasi

Rabu, 16 September 2026 - 11:37 WIB

Pegadaian Kanwil VIII Jakarta 1 Gelar Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dan Berikan Bantuan Wakaf serta Santunan Anak Yatim

Rabu, 9 September 2026 - 14:41 WIB

HUT ke-3 FORGAS Bali, Perkuat Komitmen Jaga Adat dan Budaya Nusantara

Berita Terbaru

Berita

Gemilang Run Night 2026 Di Kelapa Dua

Jumat, 9 Okt 2026 - 12:52 WIB