Detikberita, Jakarta – Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Puspenerbad) menyoroti perkembangan pesat teknologi pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicle (UAV). Teknologi drone kini dinilai tak lagi sebatas untuk pemetaan, tetapi telah berkembang menjadi platform tempur hingga pengangkut logistik dengan kapasitas beban besar.
Pamen Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Penerbangan Puspenerbad, Kolonel Cpn Yusuf Adi Purwita, mengatakan perkembangan industri UAV dalam beberapa tahun terakhir mengalami kemajuan signifikan.
“Perkembangannya begitu pesat. Tidak seperti beberapa tahun sebelumnya di mana drone masih sedikit digunakan dan identik dengan ukuran kecil untuk pemetaan. Sekarang sudah ada untuk kargo, pemetaan dengan bentuk quadcopter, bahkan ada yang sanggup mengangkut beban hingga 200 kg,” ujar Yusuf saat menghadiri pameran teknologi drone.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
TNI Siapkan Drone Tempur Berstandar Militer
Yusuf mengatakan kebutuhan drone untuk kepentingan militer memiliki spesifikasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan drone komersial. Salah satunya adalah pengembangan Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) yang dapat digunakan sebagai platform tempur.
Untuk kebutuhan tersebut, TNI menyiapkan platform berukuran besar dengan konsep Medium-Altitude Long-Endurance (MALE) UCAV.
“Untuk combat, platform kita justru yang besar, yakni Medium-Altitude Long-Endurance (MALE) UCAV. Platform ini nantinya seragam, baik untuk Angkatan Darat, Laut, maupun Udara,” jelasnya.
Sementara itu, drone jenis quadcopter yang difungsikan untuk membawa amunisi maupun logistik akan ditangani oleh kecabangan lain, termasuk kecabangan Bekal dan Angkutan (Bekang).
Yusuf menambahkan, industri pertahanan dalam negeri juga dituntut mampu memenuhi kebutuhan teknologi tersebut dengan meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Menurutnya, Indonesia memiliki ketersediaan bahan baku yang cukup besar. Namun, tantangan utama terletak pada kemampuan industri nasional dalam memenuhi standar dan spesifikasi militer.
“Ketinggian, daya jelajah (endurance), dan kemampuannya tentu jauh lebih tinggi. Bahan baku di Indonesia sebenarnya sangat melimpah, tinggal bagaimana kesiapan industri nasional untuk memenuhi standar militer tersebut,” ujarnya.
Keamanan Siber Jadi Perhatian
Selain kemampuan terbang dan daya angkut, aspek keamanan siber menjadi perhatian penting dalam pengoperasian drone militer.
Yusuf menjelaskan, UAV sangat bergantung pada data link untuk menghubungkan pesawat tanpa awak dengan operator. Sistem tersebut memiliki potensi menjadi sasaran peretasan maupun gangguan komunikasi seperti jamming.
“Pesawat tanpa awak itu mengandalkan data link, sehingga sangat rawan target peretasan. Oleh karena itu, seluruh sistem komunikasi wajib terenkripsi dengan ketat,” katanya.
Karena itu, menurut Yusuf, penguatan kemampuan personel dan operator drone juga menjadi bagian penting dalam membangun sistem pertahanan berbasis UAV.
“Para personel dan operator drone TNI pun terus dibekali dengan pemahaman teknologi mutakhir dan ilmu keamanan siber untuk mendukung keandalan di lapangan,” pungkasnya.























