Atasi Masalah Sampah Organik, PT Enviro Mas Sejahtera Perkenalkan Mesin Somya yang Ubah Sampah Jadi Kompos dalam 8 Jam

Lutfika Madjoka

- Penulis

Jumat, 12 Juni 2026 - 12:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detikberita, Jakarta – Persoalan sampah organik yang terus menumpuk di berbagai daerah di Indonesia mendorong lahirnya berbagai inovasi pengelolaan sampah. Salah satunya datang dari PT Enviro Mas Sejahtera yang memperkenalkan mesin pengolah sampah organik cepat (rapid digester) bernama Somya dalam ajang pameran Envirotech.

Mesin buatan dalam negeri tersebut diklaim mampu mengolah sampah organik menjadi substansi siap kompos hanya dalam waktu delapan jam. Selain mempercepat proses pengolahan, teknologi ini juga mampu mengurangi volume sampah hingga 95 persen.

Founder PT Enviro Mas Sejahtera, Anak Agung Ngurah Panji Astika ST, mengatakan Somya dirancang sebagai solusi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan dapat diterapkan langsung di sumber sampah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Mesin ini tidak menghasilkan emisi gas berbahaya seperti karbon dioksida, metana maupun hidrogen sulfida. Selain itu tidak menimbulkan bau dan tidak bising saat beroperasi,” ujar Panji di sela pameran Envirotech, Jakarta.

Menurutnya, Somya telah dilengkapi teknologi Human Interface Machine (HMI) berbasis layar sentuh dan sistem Internet of Things (IoT). Dengan teknologi tersebut, pengguna dapat memantau serta mengendalikan mesin dari jarak jauh, termasuk memonitor suhu dan kapasitas sampah yang diolah secara real time.

Panji menjelaskan, Somya tersedia dalam berbagai kapasitas sesuai kebutuhan pengguna. Untuk tipe terkecil, yakni SCD 50, mesin memiliki kapasitas pengolahan 50 kilogram sampah organik per siklus selama delapan jam.

Mesin tersebut menggunakan daya listrik 3.000 watt dengan konsumsi sekitar 15 kWh per siklus atau setara biaya operasional sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000.

“Jumlah 50 kilogram itu kurang lebih setara dengan sampah organik harian dari sekitar 50 rumah tangga. Untuk kebutuhan yang lebih besar, kami juga menyediakan kapasitas hingga puluhan ton per hari,” katanya.

Dengan ukuran yang relatif ringkas, mesin Somya dinilai fleksibel ditempatkan di berbagai lokasi seperti perumahan, perkantoran, restoran, hotel, hingga kawasan wisata.

Panji menilai pengolahan sampah langsung di sumber menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA).

Baca Juga:  Satgas Pangan Polri perkuat Swasembada Bawang Putih,Lahan Tanam di Sembalun Capai 534 Hektare

“Dengan sistem ini, sampah yang dihasilkan hari ini bisa langsung diselesaikan hari itu juga di lokasi. Tidak memerlukan lahan TPA yang luas maupun sistem pengamanan yang kompleks,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dominasi sampah organik dalam komposisi sampah nasional yang mencapai hampir 70 persen. Menurutnya, fokus pengelolaan sampah seharusnya tidak hanya tertuju pada sampah plastik.

“Selama ini perhatian lebih banyak diberikan kepada sampah plastik, padahal porsinya sekitar 15 persen. Sementara sampah organik mendominasi. Jika sampah organik bisa diselesaikan dari sumbernya, maka sampah non-organik akan lebih bersih sehingga proses daur ulang menjadi lebih mudah dan murah,” jelasnya.

Selain membantu mengurangi timbunan sampah, hasil olahan Somya juga memiliki nilai ekonomi karena menghasilkan material matang yang dapat diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik.

Perusahaan yang telah berdiri selama 26 tahun itu kini terus memperluas implementasi teknologi pengolahan sampahnya. PT Enviro Mas Sejahtera diketahui telah menjalin kerja sama dengan sejumlah instansi dan perusahaan, termasuk penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan PT KAI untuk pengadaan mesin di sejumlah stasiun. Teknologi serupa juga mulai digunakan di sejumlah hotel, restoran, dan kantor PLN.

Panji berharap teknologi pengolahan sampah berbasis sumber dapat diterapkan secara luas hingga tingkat RT, RW, dan komunitas masyarakat.

“Kalau pengolahan sampah organik dilakukan secara masif, bukan hanya persoalan lingkungan yang teratasi, tetapi juga dapat menghasilkan nilai ekonomi baru melalui produksi kompos. Kami optimistis teknologi ini bisa membantu mewujudkan kemandirian pengelolaan sampah di Indonesia,” pungkasnya. (F)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

THI Usul BPOM Manfaatkan AI untuk Percepat Sertifikasi Produk, Proses Izin Dinilai Terlalu Lama
MTI Minta RUU Sistranas Dipercepat, Dorong Transportasi Massal di 20 Kota Metropolitan
Kinerja Positif Pegadaian di Semester I Tahun 2026 Berhasil Cetak Laba Bersih Sebesar Rp 6,59 Triliun
Satgas Pangan Polri perkuat Swasembada Bawang Putih,Lahan Tanam di Sembalun Capai 534 Hektare
Meriahnya Milan Cup 2026, Dukungan Milan Narp Sukses Hidupkan Atmosfer Lomba
BRI Bursa Efek Indonesia dan Erha Clinic Jalin Sinergi Lewat Program Marketing Kolaborasi
BRI Sudirman 1 Kembali Gelar Jumat Berkah, Berbagi Kepedulian untuk Pengemudi Ojek Online
OASA Umumkan Konsorsium Bumi Biru Indonesia Jadi Mitra Terpilih Proyek PSEL Lampung Raya

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 16:33 WIB

THI Usul BPOM Manfaatkan AI untuk Percepat Sertifikasi Produk, Proses Izin Dinilai Terlalu Lama

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:46 WIB

MTI Minta RUU Sistranas Dipercepat, Dorong Transportasi Massal di 20 Kota Metropolitan

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:26 WIB

Kinerja Positif Pegadaian di Semester I Tahun 2026 Berhasil Cetak Laba Bersih Sebesar Rp 6,59 Triliun

Senin, 27 Juli 2026 - 17:07 WIB

Satgas Pangan Polri perkuat Swasembada Bawang Putih,Lahan Tanam di Sembalun Capai 534 Hektare

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:22 WIB

Meriahnya Milan Cup 2026, Dukungan Milan Narp Sukses Hidupkan Atmosfer Lomba

Berita Terbaru

Berita

Senin, 10 Agu 2026 - 10:45 WIB