JAKARTA, DETIKBERITA.CO.ID –
Para pedagang Pasar Sunter Podomoro, Tanjung Priok, Jakarta Utara menggelar demo di depan kantor Gubernuar DKI Jakarta (Balai Kota), Senin, 31/8/2026.
Demo tersebut menurut penasehat Paguyuban Pedagang Pasar Sunter Podomoro, H.Ali Umar
, untuk menyampaikan aspirasi terkait pedagang Pasar Sunter Podomoro menolak revitalisasi menggunakan dana dari pedagang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebanyak 150 orang ikut menyampaikan aspirasi ke Balai Kota dalam bentuk penolakan revitalisasi dari pihak pasar sunter podomoro. yang dirasa sangat memberatkan pedagang pasar sunter dalam keadaan indeks ekonomi saat ini.
Setelah dimediasi antara tim perwakilan dengan perumda yang dilakukan oleh pihak balai kota dari sampaian aspirasi para pedagang pasar sunter, ada empat tuntutan yang disampaikan :
1. Tolak Revitalisasi saat situasi perekonomian saat ini sedang sulit, biaya hidup meningkat, pasar sepi sehingga banyak kios yang tutup. Sehingga jika ada revitalisasi dan pedagang ada yg menolak maka dikenakan biaya revitalisasi makin besar.Dan yg menerima revitalisasi dikenakan biaya khusus (lebih rendah)
2. Audit PHP perpanjangan hak pakai dari 2012-2026
3. Menolak pembentukan tim baru perwakilan
4. Keputusan dari pihak perumda akan di sampaikan dalam kurun waktu 2 minggu
Menurut H.Ali, para pedagang Pasar Sunter, berharap agar pihak terkait bisa merespon secepatnya dari beberapa tuntunan tersebut.
“Agar hasil dari mediasi segera di realisasikan, adanya transparansi dari pengelola pasar dalam pengelolaan PHP, dan dengan adanya pertemuan kemarin situasi dan sistem pengelolaan pasar sunter bisa berubah menjadi baik sehingga pasar pun menjadi ramai,” harapnya, Jakarta, 31/8/2026.
Sebelumnya melalui media ini 8/8/2026, dikabarkan Rencana revitalisasi Pasar Sunter Podomoro, Jalan Sunter Karya Utara, Sunter Agung, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, mendapat respon negatif dari sejumlah pedagang.
Para pedagang mempertanyakan dasar revitalisasi serta besaran biaya yang ditawarkan. Randi, salah satu perwakilan pedagang, mengatakan biaya yang disampaikan mencapai Rp. 49 juta per meter untuk los bawah dan Rp.39 juta per meter untuk los atas.
Pedagang mempertanyakan dasar revitalisasi. Kondisi pasar saat ini juga sedang sepi, sementara biaya yang ditawarkan cukup besar,” ujar Randi, Kamis (6/8/2026).
Randi mengaku mendapat kuasa dari sejumlah pedagang untuk menyampaikan aspirasi dan meminta penjelasan kepada pihak manajemen pasar.
Menurutnya, persoalan revitalisasi sebenarnya sudah pernah menjadi pembahasan pada tahun 2012. Saat itu, kata Randi, para pedagang juga sempat menolak rencana revitalisasi karena persoalan biaya.
Di sisi lain, salah seorang anggota Tim 18 yang ditunjuk pihak manajemen mengatakan revitalisasi tetap direncanakan berjalan dengan nilai Rp.39 juta per meter untuk los atas dan Rp.49 juta per meter untuk los bawah.
“Tim 18 membantu sosialisasi kepada pedagang. Untuk mekanismenya, setahu saya melalui tender. Ada pedagang yang setuju karena pasar memang perlu pembaruan, tetapi ada juga yang keberatan karena harganya dianggap memberatkan,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang pedagang yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku keberatan dengan besaran biaya tersebut.
Menurutnya, kondisi pasar yang sedang sepi membuat pedagang kesulitan menyediakan dana untuk revitalisasi.
“Yang memberatkan karena kondisi pasar sekarang sepi. Duitnya juga tidak ada. Jadi kami berharap ada solusi dari pemerintah,” kata dia.
Para pedagang berharap pihak manajemen dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai dasar revitalisasi, mekanisme pelaksanaan, rincian biaya, serta skema pembayaran.
Repoter : Sudarman Tiwong


















