Kondisi ini sangat kontras dengan universitas top dunia yang justru membatasi jumlah mahasiswa untuk menjaga rasio kualitas dan fokus pada penelitian.
Dampak dari kebijakan tersebut tercermin pada rendahnya daya saing global pendidikan tinggi Indonesia. Hingga saat ini, belum ada universitas di tanah air yang mampu menembus peringkat 100 besar dunia, tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Singapura.
Prof. Didik memperingatkan bahwa selama kampus-kampus flagship Indonesia tetap mengelola mahasiswa dalam skala masif antara 60 ribu hingga 80 ribu orang tanpa penguatan modal riset, harapan untuk bersaing di level internasional akan sulit tercapai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain masalah kualitas, Prof. Didik juga menyoroti ketimpangan antara PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Kebijakan negara yang membiarkan PTN menyerap mahasiswa secara masif dinilai secara perlahan mematikan peran institusi pendidikan berbasis masyarakat sipil.
Sebagai solusi, beliau mengusulkan penerapan batas maksimal jumlah mahasiswa S1 di PTN serta pengalihan fokus ekspansi ke program pascasarjana dan riset strategis.
Reformasi sistem insentif dosen dan pemberian insentif fiskal bagi PTS juga dipandang mendesak agar ekosistem pendidikan tinggi nasional tetap sehat dan inovatif.
Halaman : 1 2





















