Menjaga Integritas di Tengah Gelombang AI: Catatan Kehati-hatian bagi Dunia Jurnalisme

Alam Massiri

- Penulis

Kamis, 26 Februari 2026 - 08:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : La Maseng

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia jurnalistik menghadirkan perubahan yang tidak bisa dihindari. Teknologi ini mempercepat proses kerja redaksi, membantu pengolahan data, serta mempermudah produksi dan distribusi informasi. Namun di balik efisiensi tersebut, muncul pertanyaan mendasar tentang akurasi, tanggung jawab, dan masa depan integritas profesi jurnalistik.

Sejumlah tokoh media, akademisi, dan lembaga pers—baik di dalam maupun luar negeri—mengingatkan bahwa penggunaan AI perlu disertai kesadaran etis yang kuat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Teknologi dan Dimensi Moral

Akademisi komunikasi dan pengamat media, Dr. Kun Wardana Abyoto, menekankan bahwa perkembangan teknologi harus selalu berada dalam kerangka moral. Ia menyatakan bahwa teknologi harus memiliki “hati nurani”. Artinya, kecanggihan sistem tidak boleh berjalan tanpa tanggung jawab manusia yang menggunakannya.

Kehadiran AI justru menuntut jurnalis memperkuat literasi, riset, dan ketelitian verifikasi. Teknologi dapat membantu proses teknis, tetapi penilaian akhir atas kebenaran tetap berada pada manusia.

Pandangan serupa disampaikan oleh Ketua Umum Media Independen Online (MIO) Indonesia, AYS Prayogie. Ia menilai transformasi digital, termasuk AI, tidak boleh mengurangi standar integritas dan profesionalisme media. Menurutnya, teknologi memang dapat meningkatkan efisiensi kerja redaksi, tetapi berpotensi melahirkan konten yang tidak akurat dan menyesatkan apabila tidak disertai pengawasan editorial yang kuat.

Baca Juga:  MIO Indonesia Jakarta Timur Gelar Bukber dan Santunan 146 Anak Yatim di Panti Asuhan Putra Utama 1

Peringatan dari Lembaga dan Akademisi

Dewan Pers Indonesia menyoroti bahwa penggunaan AI yang tidak dipahami secara mendalam dapat membuka ruang penyalahgunaan teknologi informasi. Media diingatkan untuk bijak memanfaatkan teknologi sekaligus berperan dalam mengedukasi publik agar tidak terjebak pada informasi yang menyesatkan.

Dari perspektif akademik, Prof. Iskandar Zulkarnain mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi menurunkan kualitas berita. Otomatisasi dapat membuat laporan menjadi lebih cepat, tetapi juga berisiko mengurangi kedalaman analisis, perspektif manusia, dan sikap kritis jurnalis. Jika tidak dikendalikan, efisiensi dapat menggantikan refleksi.

Perspektif Global

Alam Massiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa
Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)
Snowball Business Model Nandan Limakrisna: Solusi Ekonomi Berbasis Kepercayaan di Era Kapitalisme
Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi
Oligarkinomics vs Snowball Business Model: Ketika Kejujuran Menjadi Kekuatan Ekonomi
Undang-Undang Pers dan Regulasi Terkait: Fondasi Hukum bagi Kebebasan dan Tanggung Jawab Media
Soemitronomics dari Atas, Snowball Business Model dari Bawah
Pedoman Iklan dan Konten Bersponsor (Native Advertising): Menjaga Batas Tegas antara Informasi dan Promosi

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Rabu, 1 April 2026 - 07:53 WIB

OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:55 WIB

Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)

Jumat, 20 Maret 2026 - 15:35 WIB

Snowball Business Model Nandan Limakrisna: Solusi Ekonomi Berbasis Kepercayaan di Era Kapitalisme

Rabu, 18 Maret 2026 - 12:37 WIB

Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi

Senin, 16 Maret 2026 - 19:01 WIB

Oligarkinomics vs Snowball Business Model: Ketika Kejujuran Menjadi Kekuatan Ekonomi

Berita Terbaru