Detikberita, Jakarta – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Jakarta Raya menggelar Simposium Nasional dan Orasi Kebangsaan dalam rangka memperingati 99 tahun Partai Nasional Indonesia (PNI) di Sekretariat DPP PA GMNI, Cikini Raya, Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Mengusung tema “Refleksi Historis dan Meneguhkan Marhaenisme untuk Kedaulatan Rakyat”, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi terhadap perjalanan sejarah PNI sekaligus membahas relevansi pemikiran Bung Karno dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa, seperti ketimpangan ekonomi, persoalan pangan, globalisasi, dan tantangan kedaulatan nasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Umum DPP PA GMNI Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.H., dalam orasi kebangsaannya menegaskan bahwa Marhaenisme tidak boleh berhenti sebagai romantisme sejarah. Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus diaktualisasikan melalui penguatan Pancasila, konstitusi, demokrasi, kemandirian ekonomi, serta perjuangan mewujudkan keadilan sosial.
“Perjuangan untuk mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, dan demokrasi konstitusional bukan hanya cita-cita ideologis, tetapi juga amanat konstitusional yang wajib diwujudkan oleh bangsa Indonesia,” ujar Arief Hidayat.
Ia juga mengajak para alumni GMNI untuk terus menjadi kekuatan moral dan intelektual dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Arief, sejarah harus menjadi sumber inspirasi untuk membangun Indonesia yang lebih berdaulat, adil, demokratis, dan sejahtera.
Sejarawan sekaligus Peneliti Senior BRIN Prof. Dr. Asvi Warman Adam memaparkan bahwa perjalanan pemikiran Bung Karno dan lahirnya Marhaenisme tidak dapat dipisahkan dari Kota Bandung. Ia menyoroti berbagai situs dan peristiwa penting, mulai dari masa pendidikan Bung Karno, pendirian PNI, hingga Konferensi Asia-Afrika 1955 yang menjadi tonggak penting perjuangan anti-kolonialisme dunia.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pancasila Prof. Dr. Drs. Adv. Ganjar Razuni, D.H., M.Si., menekankan pentingnya menjaga kesinambungan ideologi dan semangat perjuangan PNI di tengah perubahan zaman. Ia menilai Marhaenisme harus terus diterjemahkan ke dalam gagasan dan tindakan nyata yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
Pandangan tersebut diperkuat Anggota DPRD DKI Jakarta Dwi Rip Sambodo, S.E., M.M., serta akademisi Dr. Ade Reza Hariyandi, M.Si., yang turut membahas dinamika perjuangan politik, organisasi, dan tantangan kebangsaan. Para narasumber menilai refleksi 99 tahun PNI harus menjadi momentum evaluasi sekaligus pembaruan strategi perjuangan agar tetap relevan menjelang satu abad PNI pada 2027.
Melalui simposium ini, PA GMNI Jakarta Raya berharap semangat Marhaenisme, gotong royong, keberpihakan kepada rakyat, dan kedaulatan nasional dapat terus diperkuat sebagai bagian dari perjuangan membangun Indonesia yang berkeadilan sosial.























