Detikberita, Jakarta – Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir membawa kisah persahabatan mereka ke layar lebar lewat film terbaru GJLS: Berapi-Api. Film produksi Amadeus Sinemagna ini menggabungkan komedi, aksi, dan drama keluarga melalui perjalanan tiga sahabat yang bermimpi menjadi petugas pemadam kebakaran, tetapi justru menghadapi persoalan serius berupa sindikat perdagangan anak.
Film arahan Monty Tiwa dengan produser Indra Yuhistira tersebut menggelar konferensi pers dan gala premiere di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Kamis (29/10). Acara ini menghadirkan mobil pemadam kebakaran sungguhan dan Bus Wahana Damkar GJLS. Pengunjung serta awak media bisa mencoba simulasi tugas petugas damkar, mengenal perlengkapan keselamatan, dan berfoto dengan kendaraan pemadam kebakaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Executive Producer sekaligus CEO Amadeus Sinemana, Indra Yudhistira, menjelaskan bahwa film ini mengusung skala produksi yang lebih ambisius dan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Kami ingin film ini menjadi tontonan wajib di bioskop yang tak hanya mengocok perut, tetapi juga memberikan pesan positif dan kehangatan yang dapat dinikmati bersama keluarga tercinta,” kata Indra.
Monty Tiwa mengatakan dirinya berusaha menjaga keaslian humor GJLS sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi ketiga pemeran utama.
“Tantangan terbesar mengarahkan trio GJLS adalah menjaga keaslian humor mereka tanpa terjebak repetisi formula lama. Di film ini, komedi mereka kami bawa ke ranah yang punya aksi nyata, empati, dan konflik yang menyentuh,” ujarnya.
Cerita bermula dari impian Rigen, Rispo, dan Hifdzi menjadi petugas pemadam kebakaran heroik. Namun, mereka gagal dalam pelatihan bersama regu elite legendaris Algojo Api dan harus menjalankan tugas pelayanan non-kebakaran. Ketiganya kemudian mencari jalan pintas untuk membuktikan kemampuan, tetapi keputusan itu justru menyeret mereka bersama Bu Guru Nana, karakter yang diperankan Grace Emmanuela, ke dalam konspirasi perdagangan anak.
Rigen mengatakan perjuangan tokohnya menggambarkan orang-orang yang tetap mengejar mimpi meski kerap dipandang sebelah mata. Rispo menyoroti kepedulian karakternya terhadap anak-anak panti asuhan, sementara Hifdzi menggambarkan sosok yang mampu bangkit dari pengalaman perundungan dan membantu orang lain. Bagi ketiganya, film ini juga memperlihatkan persaudaraan yang tetap terjaga meski mereka kerap saling meledek.
Selain menghibur, GJLS: Berapi-Api membawa pesan tentang keberanian, empati, dan solidaritas melalui aksi penyelamatan serta konflik kemanusiaan. Kehadiran wahana damkar dalam peluncuran film turut mengajak masyarakat menghargai dedikasi petugas pemadam kebakaran dan mengenal nilai BerAKHLAK melalui pengalaman hiburan yang dapat dinikmati bersama keluarga. (Dina)


















