JAKARTA, DETIKBERITA.CO.ID –
Majelis tahlil untuk syahidnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei diselenggarakan di Islamic Cultural Center Jakarta pada Minggu malam, 1 Maret 2026. Acara ini dihadiri para tokoh agama, perwakilan Republik Islam Iran, serta jamaah pecinta Ahlul Bait yang berkumpul untuk menyampaikan belasungkawa dan solidaritas atas gugurnya pemimpin kaum muslimin tersebut dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel di Teheran. Rangkaian acara diisi dengan sambutan para tokoh, pembacaan tahlil, serta doa bersama bagi para syuhada. Dikutip dari https://icc-jakarta.com/2026/03/02/icc-jakarta-gelar-majelis-tahlil-syahid-ayatullah-sayyid-ali-khamenei/
.
Sambutan pembuka disampaikan oleh Wakil Direktur ICC, Ustaz Umar Shahab. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kehadiran jamaah pada malam itu merupakan bentuk kecintaan, kesetiaan, dan solidaritas kepada Imam Ali Khamenei sebagai pemimpin kaum muslimin yang telah mengabdikan hidupnya untuk kemuliaan agama dan umat. Beliau menyampaikan bahwa peristiwa yang menimpa Rahbar, keluarganya, para pimpinan di Iran, serta masyarakat sipil yang turut menjadi korban merupakan peristiwa yang sangat menyakitkan. Disebutkan pula bahwa di antara korban terdapat anak-anak sekolah yang gugur akibat serangan rudal, yang semakin menambah duka mendalam bagi kaum muslimin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam penjelasannya, Ustaz Umar Shahab menyampaikan bahwa kehilangan seorang alim besar merupakan pukulan berat bagi agama. Beliau menegaskan bahwa sosok seperti Imam Ali Khamenei sangat sulit tergantikan, sebagaimana umat di masa lalu kehilangan tokoh-tokoh besar seperti para imam Ahlul Bait. Namun demikian, beliau mengajak jamaah untuk meyakini bahwa setiap peristiwa berada dalam kehendak Allah swt dan mengandung hikmah yang terbaik bagi umat.
Ustaz Umar Shahab kemudian membacakan firman Allah swt: Wa makarû wa makarallâh, wallâhu khairul-mâkirîn (“Mereka membuat tipu daya dan Allah pun membalas tipu daya (mereka). Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” QS. Ali ‘Imran [3]:54). Beliau menjelaskan bahwa orang-orang zalim mungkin merencanakan berbagai kejahatan untuk melemahkan Islam, tetapi Allah swt memiliki rencana yang lebih kuat. Menurut beliau, tidak ada kekuatan apa pun yang dapat mengalahkan kehendak Allah swt, dan karena itu kaum muslimin tidak boleh kehilangan harapan.
Ustaz Umar Shahab juga menegaskan bahwa Imam Ali Khamenei adalah sosok pemimpin yang tidak gentar menghadapi ancaman. Beliau menyampaikan bahwa Rahbar telah berulang kali menyatakan bahwa kematian bukan sesuatu yang menakutkan baginya, bahkan dalam doa-doanya beliau memohon kepada Allah swt agar dianugerahi kesyahidan. Karena itu, menurut beliau, syahadah merupakan anugerah tertinggi bagi seorang mukmin yang mengabdikan hidupnya di jalan Allah swt. Jamaah kemudian diajak memperbarui komitmen melalui ucapan istirja’, innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn, sebagai pengingat bahwa manusia adalah milik Allah dan siap mempersembahkan hidupnya di jalan-Nya.
Setelah sambutan pembuka, acara dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Habib Hasan Dalil Alaydrus dan diikuti oleh seluruh hadirin dengan khidmat.
Pidato berikutnya disampaikan oleh Direktur ICC, Syaikh Mohammad Sharifani, yang menyampaikan belasungkawa kepada Sahibuz Zaman AFS, para maraji, dan seluruh kaum muslimin. Beliau menegaskan bahwa wafatnya seorang alim merupakan kekurangan besar dalam tubuh umat yang tidak mudah tergantikan, terutama di masa-masa berat yang sedang dihadapi oleh Revolusi Islam Iran.
Syaikh Sharifani juga menegaskan bahwa dalam ajaran Ahlul Bait, syahadah merupakan kemuliaan tertinggi yang menjadi dambaan para pejuang. Beliau menggambarkan bahwa Imam Ali Khamenei selama puluhan tahun hidup dalam kesederhanaan dan pengabdian, sehingga kesyahidan merupakan akhir kehidupan yang paling layak bagi seorang pejuang seperti beliau.
Pidato selanjutnya disampaikan oleh Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, yang menyatakan bahwa kesyahidan merupakan balasan tertinggi bagi seseorang yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk Islam. Beliau mengajak umat Islam memperjelas posisi keberpihakan mereka di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Pidato terakhir disampaikan oleh Ustaz Muhsin Labib, yang menegaskan bahwa wafatnya seorang pemimpin tidak berarti berakhirnya perjuangan, karena nilai dan ajaran yang ditinggalkannya akan terus hidup. Beliau mengajak jamaah menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum untuk memperbarui komitmen dalam mengikuti jalan Ahlul Bait dan melawan ketidakadilan.























