Film Para Perasuk Menampilkan Emosi dengan Cara Berbeda, Mencerminkan Pergulatan Manusia: Antara Ambisi, Luka Masa Lalu, dan Berdamai dengan Diri

Indah

- Penulis

Kamis, 16 April 2026 - 06:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detikberita.co.id Jakarta, 14 April 2026 — Salah satu film yang paling dinantikan tahun ini, Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja, akan tayang mulai 23 April 2026. Film ini menghadirkan bentuk penyaluran emosi yang tak biasa, merefleksikan pengalaman manusia—mulai dari mengejar ambisi, menghadapi bayangan masa lalu, hingga berdamai dengan diri sendiri.

Seluruh emosi tersebut disalurkan melalui sebuah “pesta kerasukan”, yang menjadi cara para karakter menemukan kebahagiaan sekaligus pelarian.

Para Perasuk mengajak penonton melihat kerasukan dari perspektif berbeda. Selama ini, kerasukan kerap diasosiasikan dengan hal menyeramkan yang berkaitan dengan roh gaib. Namun dalam film ini, kerasukan dalam “Pesta Sambetan” justru menjadi ritual yang menyenangkan. Kerasukan dimaknai sebagai metafora untuk melepaskan beban yang lama dipendam, sekaligus bentuk eskapisme.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelumnya, Para Perasuk telah melakukan penayangan perdana (world premiere) di Sundance Film Festival 2026. Film ini juga berkeliling ke berbagai festival internasional, termasuk berkompetisi di Miami Film Festival dalam program Marimbas Award, Fantaspoa Brasil, serta menjadi official selection di program Artful Visions & Asian Frontier di MSPIFF, dan berkompetisi di MOOOV Belgia.

Di Indonesia, antusiasme terhadap film ini sangat tinggi. Hal ini terbukti dari early screening di 14 kota yang seluruh tiketnya terjual habis. Beberapa kota lainnya juga menyusul dengan pembukaan tiket yang langsung disambut positif. Dalam penayangan awal tersebut, banyak penonton memuji kekuatan ansambel pemain yang berhasil menghidupkan cerita dengan energi yang saling menguatkan.

“Film ini berbicara tentang obsesi seseorang. Tokoh utamanya, Bayu (Angga Yunanda), ingin menjadi perasuk terbaik. Namun, desanya terancam digusur. Bayu dan warga berusaha mempertahankan desa mereka. Ini adalah cerita tentang seseorang yang terlalu terobsesi hingga melupakan orang-orang di sekitarnya, termasuk ayahnya. Ambisi seperti ini sangat dekat dengan kehidupan kita, ketika kita mengejar sesuatu hingga melupakan keluarga atau orang terdekat,” ujar Wregas.

Diproduksi oleh Rekata Studio, Para Perasuk diproduseri oleh Iman Usman, Amalia Rusdi, dan Siera Tamihardja. Film ini dibintangi oleh Angga Yunanda, Anggun, Maudy Ayunda, Chicco Kurniawan, Bryan Domani, Indra Birowo, dan Ganindra Bimo.

Baca Juga:  Atmosfer Planet Mars Warnai Film “Pelangi di Mars”

Bagi Angga Yunanda, yang memerankan Bayu, karakter ini terasa sangat dekat dengan dirinya.

“Para Perasuk adalah film yang sangat manusiawi. Sejak hari pertama syuting, saya merasa cerita ini sangat menusuk hati. Bayu adalah anak muda yang sedang mencari jati diri dan berambisi menjadi yang terbaik. Ini adalah coming-of-age story yang berbeda, karena juga membahas hubungan dengan luka masa lalu. Film ini sangat dekat dan menyentuh hati saya,” ujarnya.

Film ini juga menghadirkan berbagai adegan tak terduga, mulai dari Angga Yunanda yang harus melata seperti lintah dan bergelantung terbalik, Maudy Ayunda yang menari tanpa alas kaki layaknya perasuk, hingga Anggun yang merapal mantra. Selain itu, Chicco Kurniawan dan Bryan Domani juga tampil memainkan instrumen musik.

Untuk koreografi, Wregas menggandeng Siko Setyanto. Seluruh gerakan yang diciptakan bersifat orisinal dan tidak meniru tradisi tertentu. Koreografi ini menjadi medium untuk menerjemahkan lapisan emosi—takut, cinta, hingga hasrat—menjadi energi kolektif.

“Wregas punya pandangan yang sangat unik. Setiap filmnya selalu membawa isu sosial, dan cara bertuturnya membuat kita tergugah serta mempertanyakan banyak hal dalam diri. Harapannya, Para Perasuk juga bisa meninggalkan kesan mendalam,” ujar Anggun, yang memerankan Guru Asri.

Bagi Maudy Ayunda, film ini juga menjadi tonggak baru dalam perjalanan kariernya.

“Laksmi adalah karakter penting karena menjadi satu-satunya yang memanifestasikan proses kerasukan secara penuh. Sebagai pelamun, ia dirasuki roh hewan. Proses menerjemahkan itu dalam bentuk tarian menjadi perjalanan bagi saya untuk melepaskan kontrol dan belajar berserah. Saya banyak menggunakan intuisi dan rasa,” ungkap Maudy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

FILM MONSTER PABRIK RAMBUT MENYAJIKAN HOROR FANTASI RETRO DENGAN PENGALAMAN SINEMATIK YANG BERBEDA, MENGANGKAT SECARA JUJUR KERESAHAN JUTAAN PEKERJA TENTANG NORMALISASI LEMBUR KURANG TIDUR
Badut Gendong ‘Hidup’ di Epicentrum! Intip Kengerian Gala Premiere Monster Baru di Universe Qodrat
Rapi Films Gelar Gala Premiere “Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan”: Sebuah Pengingat Bahwa Memori Bersama Orang Tersayang Tidaklah Abadi
Trailer Film Tumbal Proyek Rilis, Bongkar Kisah Kelam di Balik Proyek Besar
Festival Sinema Australia Indonesia 2026 Perkuat Kolaborasi Film Indonesia-Australia
Kiesha Alvaro dan Arla Ailani Bangun Chemistry Kuat di Film Shaka Oh Shaka
Film Warung Pocong Paduan Horor dan Komedi Tampilkan Kelucuan Tiga Komika
Zee Asadel & Emir Mahira Sah Sebagai Pasutri di Official Trailer Film “Kupilih Jalur Langit”: Saat Akad Sudah Diucap, Namun Hati Suami Masih Milik Wanita Lain

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 20:19 WIB

FILM MONSTER PABRIK RAMBUT MENYAJIKAN HOROR FANTASI RETRO DENGAN PENGALAMAN SINEMATIK YANG BERBEDA, MENGANGKAT SECARA JUJUR KERESAHAN JUTAAN PEKERJA TENTANG NORMALISASI LEMBUR KURANG TIDUR

Sabtu, 23 Mei 2026 - 18:04 WIB

Badut Gendong ‘Hidup’ di Epicentrum! Intip Kengerian Gala Premiere Monster Baru di Universe Qodrat

Jumat, 8 Mei 2026 - 21:29 WIB

Rapi Films Gelar Gala Premiere “Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan”: Sebuah Pengingat Bahwa Memori Bersama Orang Tersayang Tidaklah Abadi

Jumat, 24 April 2026 - 11:45 WIB

Trailer Film Tumbal Proyek Rilis, Bongkar Kisah Kelam di Balik Proyek Besar

Kamis, 23 April 2026 - 23:59 WIB

Festival Sinema Australia Indonesia 2026 Perkuat Kolaborasi Film Indonesia-Australia

Berita Terbaru