MBG di Persimpangan Jalan: Antara Ambisi Besar dan Ujian Lapangan

Alam Massiri

- Penulis

Jumat, 27 Februari 2026 - 13:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Program MBG

i

Ilustrasi Program MBG

Penulis : La Maseng*

Catatan Kecil Untuk Bapak Prabowo Subianto

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digagas sebagai salah satu kebijakan sosial terbesar dalam sejarah Indonesia modern. Ia dijanjikan sebagai solusi konkret untuk meningkatkan kualitas gizi anak dan memperkuat fondasi sumber daya manusia nasional. Presiden Prabowo Subianto bahkan menyatakan kesiapan menanggung risiko politik dan ekonomi secara pribadi serta mengerahkan seluruh kemampuan demi memastikan program tersebut berjalan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun di balik ambisi besar itu, sejumlah pertanyaan mendasar kini muncul dari lapangan.

Dengan anggaran ratusan triliun rupiah, publik berhak mengetahui secara rinci bagaimana dana tersebut terdistribusi, berapa persen yang benar-benar berubah menjadi makanan di piring anak-anak, dan bagaimana kualitasnya dijaga. Transparansi bukan sekadar tuntutan administratif, melainkan syarat utama legitimasi kebijakan.

Laporan mengenai makanan yang kualitasnya dipertanyakan, menu yang tidak sesuai standar gizi ideal, hingga insiden keracunan di sejumlah wilayah menjadi alarm serius. Dalam program pangan massal, satu kesalahan distribusi dapat berdampak pada ribuan anak sekaligus. Ini bukan sekadar persoalan teknis dapur, melainkan persoalan sistem pengawasan.

Pertanyaan berikutnya adalah struktur biaya. Jika biaya per porsi berada pada angka yang sangat ketat, sementara rantai distribusi mencakup pengadaan bahan, operasional dapur, transportasi, penyimpanan, serta pengawasan, maka ruang kesalahan menjadi semakin sempit. Dalam kondisi fiskal yang terkompresi, risiko penurunan mutu dan inefisiensi meningkat.

Baca Juga:  Fotografer Konflik yang “Masih Terlihat di Lapangan Aceh” Antara Ingatan, Trauma, dan Legenda Profesi

Sejumlah analis ekonomi telah mengingatkan bahwa program dengan skala sebesar ini membutuhkan disiplin fiskal dan manajemen yang presisi. Tanpa kontrol ketat, program sosial dapat berubah menjadi sumber pemborosan atau bahkan celah penyimpangan.

Di sisi lain, pemerintah menyatakan bahwa sistem pengawasan telah disiapkan dan bahwa berbagai kendala lapangan sedang ditangani. Namun investigasi lebih mendalam perlu memastikan apakah mekanisme audit dan kontrol benar-benar berjalan hingga tingkat operasional paling bawah, bukan hanya pada level administratif pusat.

Alam Massiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa
Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)
Snowball Business Model Nandan Limakrisna: Solusi Ekonomi Berbasis Kepercayaan di Era Kapitalisme
Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi
Oligarkinomics vs Snowball Business Model: Ketika Kejujuran Menjadi Kekuatan Ekonomi
Undang-Undang Pers dan Regulasi Terkait: Fondasi Hukum bagi Kebebasan dan Tanggung Jawab Media
Soemitronomics dari Atas, Snowball Business Model dari Bawah
Pedoman Iklan dan Konten Bersponsor (Native Advertising): Menjaga Batas Tegas antara Informasi dan Promosi

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Rabu, 1 April 2026 - 07:53 WIB

OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:55 WIB

Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)

Jumat, 20 Maret 2026 - 15:35 WIB

Snowball Business Model Nandan Limakrisna: Solusi Ekonomi Berbasis Kepercayaan di Era Kapitalisme

Rabu, 18 Maret 2026 - 12:37 WIB

Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi

Senin, 16 Maret 2026 - 19:01 WIB

Oligarkinomics vs Snowball Business Model: Ketika Kejujuran Menjadi Kekuatan Ekonomi

Berita Terbaru