Detikberita, JAKARTA – Perusahaan energi terbarukan Ormat memamerkan teknologi pengembangan energi panas bumi (geothermal) dalam ajang pameran energi nasional di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Keikutsertaan Ormat dalam pameran tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan teknologi dan proyek panas bumi kepada para pemangku kepentingan, sekaligus mendorong percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.
Technical Director Ormat Remy Harimanda mengatakan, pameran menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman para pemangku kepentingan mengenai pengembangan panas bumi yang dilakukan perusahaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Target pameran ini untuk menyosialisasikan kegiatan kita kepada para stakeholder dan memberikan gambaran terkait proyek-proyek yang sedang dilakukan,” ujar Remy di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, peningkatan pemahaman mengenai teknologi dan proyek panas bumi diharapkan dapat menciptakan kesadaran yang lebih luas sekaligus mendukung percepatan pengembangan energi panas bumi di Indonesia.
“Harapan kita bisa membantu memberikan awareness serta mempercepat proses pengembangan panas bumi di Indonesia ke depannya,” katanya.
Garap Enam Wilayah Konsesi
Remy menjelaskan, Ormat telah berdiri sejak 1965 dan memiliki pengalaman lebih dari 60 tahun di sektor energi. Perusahaan tersebut memiliki fokus utama pada pengembangan energi panas bumi.
Selain geothermal, Ormat juga mengembangkan bisnis energy storage berbasis baterai serta pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau solar photovoltaic (PV) di Amerika Serikat.
Di Indonesia, saat ini Ormat tengah mengembangkan enam wilayah konsesi yang masih dalam tahap ongoing.
Dalam pengembangan sejumlah proyek tersebut, Ormat bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk perusahaan BUMN seperti PT PLN (Persero) di dua lapangan.
Ormat juga menjalin kerja sama dengan perusahaan tambang swasta Archid Mining untuk pengembangan proyek di Toka Tindung.
Remy mengatakan, kemitraan menjadi bagian penting dalam tahapan pengembangan proyek panas bumi, terutama ketika proyek memasuki tahap pengembangan.
“Hampir semuanya nanti ketika pada masa pengembangan kita membutuhkan mitra. Pada saat eksplorasi saja kita masih sendiri,” jelasnya.
Biaya Pengeboran Jadi Tantangan
Di sisi lain, Remy menilai regulasi pengembangan panas bumi di Indonesia saat ini sudah cukup komprehensif dibandingkan dengan sejumlah negara lain.
Namun, penerapan berbagai ketentuan tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap biaya pengembangan proyek yang relatif tinggi.
Salah satu tantangan utama adalah biaya pengeboran sumur panas bumi yang menurut dia dapat mencapai sekitar dua kali lipat dibandingkan biaya pengeboran di Amerika Serikat.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari karakteristik lokasi proyek panas bumi di Indonesia yang banyak berada di kawasan terpencil, termasuk wilayah pegunungan dan kepulauan.
“Di Amerika, ngebor satu sumur bisa di bawah USD 5 juta. Di Indonesia rata-rata USD 10 juta per sumur karena butuh investasi infrastruktur seperti jalan,” kata Remy.
Menurut dia, tingginya biaya investasi tersebut turut berdampak pada keekonomian pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Tarif listrik yang dihasilkan masih berada di atas tingkat harga yang dinilai ekonomis bagi PLN sehingga menjadi salah satu tantangan dalam mempercepat pembangunan PLTP.
Meski demikian, Ormat menyatakan terus membawa teknologi dan inovasi untuk meningkatkan efisiensi pengembangan panas bumi di Indonesia.
Remy menegaskan, perusahaan ingin menunjukkan bahwa proyek panas bumi tetap dapat dikembangkan dengan biaya yang lebih efisien melalui penerapan teknologi dan inovasi.
“Kami justru ingin membawa angin perubahan, memberikan contoh bahwa kami bisa mengembangkan panas bumi dengan biaya yang lebih murah,” pungkasnya.























