Jakarta, 17 Mei 2026 – Pernyataan Legal PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) yang membantah dugaan kerusakan lingkungan dinilai bertolak belakang dengan fakta yang dirasakan langsung oleh masyarakat Desa Torobulu dengan berbagai dokumentasi yang telah beredar luas di media sosial.
Himpunan Mahasiswa Konawe Selatan (HIPMA Konsel-Jakarta) menegaskan bahwa kritik terhadap PT WIN bukan sekadar narasi tanpa dasar, melainkan lahir dari keresahan masyarakat atas kondisi lingkungan yang berubah akibat aktivitas pertambangan dan lalu lintas hauling di wilayah tersebut.
Kerusakan jalan desa, debu yang mengganggu aktivitas warga, penambangan di pemukiman warga, kondisi lingkungan pesisir yang dikeluhkan masyarakat, hingga dampak terhadap kenyamanan hidup warga merupakan persoalan nyata yang selama ini terus disuarakan masyarakat Torobulu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Publik bisa melihat sendiri bagaimana kondisi di lapangan yang terus-menerus menjadi penyebab kerusakan lingkunngan. Dokumentasi dan keluhan masyarakat bahkan sudah beredar luas di berbagai media sosial. Jadi sangat keliru jika semua kritik dianggap asumsi atau opini sepihak,” jelas Adrian Alfath Mangidi pada awak media
Adrian menilai persoalan utama bukan hanya sekadar soal legalitas administrasi perusahaan, tetapi bagaimana aktivitas pertambangan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sekitar lingkar tambang. Sebab sebesar apa pun investasi tambang, kepentingan masyarakat dan keselamatan lingkungan tidak boleh dikorbankan.
Selain itu, ia juga menyoroti bahwa keresahan masyarakat Torobulu telah berlangsung cukup lama namun terkesan tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah maupun aparat penegak hukum. Akibatnya, masyarakat merasa suara mereka kerap diabaikan di tengah masifnya aktivitas pertambangan.
“Kami berbicara berdasarkan fakta sosial yang dirasakan warga setiap hari. Debu, kerusakan lingkungan, dan terganggunya aktivitas masyarakat hingga aktivitas pertambangan di pemukiman warga bukan sesuatu yang dibuat-buat. Itu realitas yang terjadi di Torobulu,” lanjutnya.
Adrian juga menegaskan terhadap pemerintah dan aparat penegak hukum untuk tidak hanya menerima klarifikasi perusahaan di atas meja, tetapi turun langsung memeriksa kondisi lapangan secara objektif dan transparan agar publik mengetahui fakta sebenarnya.
Menurut nya, apabila perusahaan benar-benar menjalankan aktivitas sesuai prinsip pertambangan yang baik dan benar, maka seharusnya tidak ada keresahan berkepanjangan yang terus muncul di tengah masyarakat.
“Aksi pengawalan terhadap kerusakan lingkungan PT WIN, Kami pastikan akan terus berlanjut hingga ada langkah nyata dari pemerintah, Mabes Polri, dan Kementerian ESDM untuk segera menindaklanjuti keluhan masyarakat Desa Torobulu secara serius” tutupnya
- FPPMMT Soroti Dugaan Lemahnya Pengawasan Syabandar Menui Kepulauan Pasca Tenggelamnya Kapal di Perairan Samarengga-Koikoila - 15/07/2026
- DPD GMN Sultra Desak Kejati Sultra Bongkar Dugaan Mafia Izin Crossing Tambang, Minta Gubernur Copot Kadis DP3APPKB Inisial RJ - 14/07/2026
- Diduga Gunakan Material dari Tambang Tanpa Izin, Proyek Pengaman Pantai Tondowolio Senilai Rp18,5 Miliar sultra monitoring corruption menyoroti - 14/07/2026























