Pedoman Penulisan Berita Keberagaman: Menjaga Sensitivitas dan Keadilan dalam Pemberitaan

La Maseng

- Penulis

Jumat, 13 Maret 2026 - 08:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : La Maseng

Indonesia dibangun di atas keberagaman. Suku, agama, ras, budaya, bahasa, dan identitas sosial hidup berdampingan dalam satu ruang kebangsaan. Dalam konteks ini, media memiliki peran strategis. Cara keberagaman diberitakan dapat memperkuat persatuan, tetapi juga berpotensi memperuncing perbedaan. Karena itu, Pedoman Penulisan Berita Keberagaman menjadi penting sebagai panduan etis dan profesional bagi wartawan.

Keberagaman bukan sekadar data demografis. Ia menyangkut identitas, harga diri, dan sejarah kolektif. Kesalahan dalam memilih kata, sudut pandang, atau penekanan informasi dapat berdampak luas terhadap harmoni sosial.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengapa Pedoman Keberagaman Dibutuhkan

Isu keberagaman sering kali bersinggungan dengan sentimen emosional dan sensitivitas publik. Pemberitaan yang tidak hati-hati dapat memicu stereotip, diskriminasi, atau bahkan konflik sosial. Dalam situasi tertentu, narasi media dapat memperbesar perbedaan alih-alih membangun pemahaman.

Pedoman ini diperlukan untuk memastikan bahwa jurnalisme tetap berpegang pada prinsip akurasi, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Media tidak boleh menjadi alat yang memperkuat prasangka atau memperluas stigma terhadap kelompok tertentu.

Selain itu, dalam era media digital, penyebaran informasi berlangsung sangat cepat. Kesalahan framing atau penggunaan istilah yang tidak tepat dapat dengan mudah viral dan sulit dikoreksi.

Baca Juga:  Model Operasional Redaksi Ramah Anak di Era Algoritma dan Ekonomi Perhatian - ( "K" Sorong dan PPRA - 3 )

Prinsip-Prinsip Dasar dalam Pemberitaan Keberagaman

Pertama, akurasi dan relevansi. Identitas suku, agama, ras, atau latar belakang sosial seseorang hanya boleh disebutkan jika relevan dengan konteks pemberitaan. Penyebutan identitas tanpa relevansi dapat memicu generalisasi yang tidak perlu.

Kedua, menghindari stereotip. Wartawan harus berhati-hati dalam memilih diksi dan sudut pandang. Bahasa yang bernada generalisasi atau mengaitkan tindakan individu dengan identitas kelompok tertentu berpotensi melahirkan stigma.

Ketiga, keberimbangan perspektif. Dalam isu yang menyangkut kelompok minoritas atau komunitas tertentu, penting menghadirkan suara dari pihak yang diberitakan. Representasi yang adil membantu mencegah bias narasi.

La Maseng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa
Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)
Snowball Business Model Nandan Limakrisna: Solusi Ekonomi Berbasis Kepercayaan di Era Kapitalisme
Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi
Oligarkinomics vs Snowball Business Model: Ketika Kejujuran Menjadi Kekuatan Ekonomi
Undang-Undang Pers dan Regulasi Terkait: Fondasi Hukum bagi Kebebasan dan Tanggung Jawab Media
Soemitronomics dari Atas, Snowball Business Model dari Bawah
Pedoman Iklan dan Konten Bersponsor (Native Advertising): Menjaga Batas Tegas antara Informasi dan Promosi

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Rabu, 1 April 2026 - 07:53 WIB

OTT Wartawan Mojokerto: Antara Kebebasan Pers, Dugaan Pemerasan, dan Narasi Rekayasa

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:55 WIB

Selat Hormuz dan Kedaulatan Ekonomi Rakyat melalui Snowball Business Model (SBM)

Jumat, 20 Maret 2026 - 15:35 WIB

Snowball Business Model Nandan Limakrisna: Solusi Ekonomi Berbasis Kepercayaan di Era Kapitalisme

Rabu, 18 Maret 2026 - 12:37 WIB

Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi

Senin, 16 Maret 2026 - 19:01 WIB

Oligarkinomics vs Snowball Business Model: Ketika Kejujuran Menjadi Kekuatan Ekonomi

Berita Terbaru