Ketika Diplomasi Energi Mentok, Saatnya Indonesia Berdaulat dari Dalam

Ketergantungan impor energi membuat posisi tawar lemah, saatnya memperkuat ekonomi nasional berbasis rakyat dan produksi domestik.

Alam

- Penulis

Sabtu, 18 April 2026 - 08:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nandan Limakrisna*

Di tengah gejolak geopolitik global, satu fakta kembali menampar kesadaran kita: Indonesia masih sangat bergantung pada energi dari luar negeri. Setiap kali harga minyak naik, setiap kali jalur distribusi terganggu, setiap kali konflik memanas, yang ikut bergetar bukan hanya pasar global, tetapi juga APBN, nilai tukar rupiah, dan daya beli rakyat.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah bergerak melalui jalur diplomasi. Itu wajar. Bahkan perlu. Namun ada satu kenyataan yang tidak bisa ditutup-tutupi: selama kita masih bergantung pada pasokan luar, posisi kita dalam negosiasi akan selalu terbatas. Kita bisa meminta, tetapi belum tentu bisa menentukan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diskon harga, prioritas pasokan, atau perlakuan khusus bukanlah sesuatu yang diberikan karena simpati. Dalam dunia energi global, semua ditentukan oleh kepentingan, posisi tawar, dan kekuatan sistem ekonomi. Negara yang kuat bukan yang paling sering bernegosiasi, tetapi yang paling sedikit bergantung.

Masalah Indonesia bukan sekadar pada hasil diplomasi yang belum optimal. Masalah yang lebih dalam adalah struktur ekonomi yang masih rentan. Kita terlalu lama membangun ekonomi yang bergantung pada arus luar, sementara kekuatan dari dalam belum benar-benar terorganisasi.

Ketika harga minyak naik, negara harus bekerja ekstra menjaga stabilitas. Anggaran ditekan, ruang fiskal menyempit, dan berbagai skenario darurat disiapkan. Ini menunjukkan satu hal: ketahanan kita masih bersifat reaktif, bukan struktural.

Kita seperti terus memadamkan api, tetapi belum membangun sistem yang membuat rumah kita tahan terhadap kebakaran.

Padahal Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Dengan lebih dari 280 juta penduduk, jutaan UMKM, serta sumber daya yang melimpah, Indonesia memiliki semua syarat untuk membangun kekuatan ekonomi dari dalam. Namun potensi itu masih berjalan sendiri-sendiri, belum terintegrasi dalam satu sistem yang saling menguatkan.

Di sinilah perubahan arah harus dilakukan.

Indonesia tidak cukup hanya memperkuat diplomasi. Indonesia harus membangun kedaulatan ekonomi rakyat.

Kedaulatan ini bukan berarti menutup diri dari dunia. Tetapi memastikan bahwa kebutuhan dasar bangsa—energi, pangan, dan ekonomi rakyat—memiliki fondasi yang kuat dari dalam negeri. Ketika fondasi ini kokoh, gejolak global tidak lagi menjadi ancaman besar, melainkan hanya tantangan yang bisa dikelola.

Baca Juga:  Ichsanuddin Noorsy: Ekonom Struktural Yang Tersisa (Bagian-2)

Salah satu pendekatan yang dapat mempercepat hal ini adalah membangun sistem ekonomi berbasis komunitas melalui Snowball Business Model (SBM). Dalam model ini, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan promotor dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Pasar tidak lagi dicari keluar, tetapi dibangun dari dalam.

Jika model seperti ini dikembangkan secara luas melalui koperasi, desa, dan jaringan UMKM, maka arus ekonomi akan berputar di dalam negeri. Ketergantungan terhadap pasar dan pasokan luar akan berkurang, dan posisi Indonesia dalam percaturan global akan meningkat secara alami.

Pertanyaan yang harus kita jawab bukan lagi “berapa harga minyak dunia hari ini”, tetapi “seberapa kuat sistem ekonomi kita menghadapi perubahan harga itu”.

Selama kita masih bergantung, setiap krisis global akan terasa sebagai ancaman. Tetapi jika kita berdaulat, krisis global hanya akan menjadi ujian yang bisa dilewati.

Diplomasi tetap penting. Tetapi tanpa kekuatan dari dalam, diplomasi hanya menjadi upaya jangka pendek.

Saatnya Indonesia berhenti sekadar bertahan, dan mulai membangun kekuatan.

Bukan dari luar.
Tetapi dari dalam.


*) Nandan Limakrisna adalah Guru Besar Ilmu Manajemen di Universitas Persada Indonesia YAI (UPI YAI) yang menaruh perhatian pada kajian strategi bisnis, pemasaran, serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Ia aktif menulis dan memberikan pemikiran mengenai pemberdayaan UMKM, model bisnis kolaboratif, dan penguatan ekonomi rakyat. Melalui berbagai tulisan dan forum akademik, ia juga memperkenalkan konsep Snowball Business Model (SBM) sebagai pendekatan pengembangan ekosistem ekonomi komunitas. Pemikirannya banyak menyoroti pentingnya sinergi antara industrialisasi nasional dan ekonomi rakyat dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rocky Gerung Masuk Istana: Akankah Kritik Tetap Bersuara?
Pergantian Kapolri 2026: Dari Era Presisi Listyo Sigit ke Polisi Bersama Masyarakat
Mancing Bersama, Lebih Dari Sekadar Strike’: Empang HUB Gelar Turnamen yang Jadi Ruang Temu Pemancing Lintas Generasi
Pegadaian Kanwil VIII Jakarta 1 Gelar Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dan Berikan Bantuan Wakaf serta Santunan Anak Yatim
HUT ke-3 FORGAS Bali, Perkuat Komitmen Jaga Adat dan Budaya Nusantara
ShopeeVIP+ Hadirkan Pengalaman ‘Sekali Langganan, Dapat Semua’, Semakin Lengkap dengan Akses Netflix
Lewat Voting, 9 Warga Terpilih Jadi Panmus PPPSRS Kalibata City
Kuasa Hukum Sampaikan Keterangan Saksi dalam Laporan Pelanggaran Etik Polri

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:17 WIB

Rocky Gerung Masuk Istana: Akankah Kritik Tetap Bersuara?

Kamis, 1 Oktober 2026 - 02:01 WIB

Pergantian Kapolri 2026: Dari Era Presisi Listyo Sigit ke Polisi Bersama Masyarakat

Senin, 21 September 2026 - 12:59 WIB

Mancing Bersama, Lebih Dari Sekadar Strike’: Empang HUB Gelar Turnamen yang Jadi Ruang Temu Pemancing Lintas Generasi

Rabu, 16 September 2026 - 11:37 WIB

Pegadaian Kanwil VIII Jakarta 1 Gelar Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dan Berikan Bantuan Wakaf serta Santunan Anak Yatim

Rabu, 9 September 2026 - 14:41 WIB

HUT ke-3 FORGAS Bali, Perkuat Komitmen Jaga Adat dan Budaya Nusantara

Berita Terbaru