Kesepatan Bersama Tak Terealisasi Malah Ladang Warga Diratakan, Masyarakat Hukum Adat Minta Kapolres Barito Utara Turun Tangan

Darman

- Penulis

Minggu, 7 Juni 2026 - 15:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BARITO UTARA | detikberita.CO.id – Perselisihan lahan antara masyarakat hukum adat dengan PT NPR di wilayah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, kian menanjak tajam dan memicu kecurigaan publik.

Masalah berawal dari proses mediasi 28 Pebuari 2025 yang telah disepakati di Mapolres Barito Utara, di mana pihak kepolisian, perusahaan, dan warga sepakat melakukan pengecekan langsung ke lapangan guna memastikan batas dan luas lahan. Namun, hingga kini kesepakatan itu tidak pernah direalisasikan, sementara di sisi lain lahan garapan warga justru dirusak, digusur diam-diam, dan muncul dugaan pembayaran kompensasi kepada oknum tertentu tanpa sepengetahuan pemilik sah.

Salah satu warga yang menjadi korban kerugian terbesar, Sukarni, menceritakan keprihatinan mendalamnya di hadapan awak media. Ia menunjuk ke arah hamparan tanah yang kini berubah menjadi semak belukar. Dulu, tanah itu adalah ladang padi yang produktif; kini yang tersisa hanya puing pondok roboh sengaja digarap PT NPR juga Tanpa Ganti Rugi Semua kerusakan itu terjadi tanpa pemberitahuan resmi, tanpa panggilan, dan tanpa adanya kehadiran aparat yang dijanjikan saat mediasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saat kita duduk bersama di Mapolres, kami sudah sepakat: pihak kepolisian akan mengawal kami turun ke lokasi, melihat batas, dan memastikan mana tanah kami dan mana tanah perusahaan. Itu janji resmi di meja mediasi. Tapi sampai hari ini, tidak ada satupun petugas atau pihak perusahaan yang datang. Tiba-tiba saja ladang kami rata dengan tanah, digusur paksa, dan kami baru dengar ada pembayaran yang kami tidak pernah terima dan tidak tahu ke mana perginya uang itu,” ungkap Sukarni dengan nada kecewa, Barit Utara, 6/6/2026

Ia mengaku kepercayaan terhadap proses penegakan hukum yang adil kini mulai luntur. “Cukup sekali kami diberi harapan, lalu dikecewakan dan dibohongi. Kami datang mencari perlindungan, bukan malah dirugikan seperti ini,” tambahnya.

Baca Juga:  Ketua Umum MIO Indonesia Kecam Pengeroyokan Wartawan TVOne di PT PMM Bangka Belitung

Fakta Janggal: Data Luas Lahan Berbeda Jauh, Ada 72 Hektar “Hilang”?

Poin paling krusial dan menjadi dasar kuat kecurigaan warga adalah perbedaan angka luas lahan yang sangat mencolok antara data yang dipegang masyarakat dengan keterangan yang disampaikan PT NPR saat mediasi.

Menurut keterangan resmi yang disampaikan penerima kuasa warga, Jhon Kenedi, luas keseluruhan lahan garapan adat yang diklaim telah dibebaskan oleh perusahaan hanya mencapai 68 hektar. Namun, saat berdialog di hadapan aparat kepolisian, perwakilan PT NPR menyatakan bahwa pihaknya telah membebaskan lahan seluas 140 hektar.

Selisih antara kedua data tersebut mencapai 72 hektar. Angka yang sangat besar dan tidak dapat diabaikan.

“Di mana kebenarannya? Kalau dituntut untuk lebih peka, karena tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan sumber kehidupan dan identitas bagi warga Barito Utara,” pungkas Jhon.

Publik berharap  kasus ini menjadi pelajaran agar dialog yang terbuka, jujur, dan bertanggung jawab dapat terjalin, sehingga tidak ada lagi pihak yang dirugikan dan keharmonisan sosial tetap terjaga.

Tak terealisasinya kesepakatan bersama tersebut masyarakat hukum adat mengharapkan Kapolres Barito Utara turun tangan (red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikberita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kasus Nurbani Ermin Belum Jelas Sejak 2023, DAS Law Firm Serahkan Resume Hukum
Polda Metro Bongkar Sindikat SMS Phishing di Rute MRT, Pakai Fake BTS Keliling
KORBAN PENGEROYOKAN DI APARTEMEN THE MONDE CITY BATAM DESAK APARAT USUT TUNTAS PELAKU
Surat dan Saksi Buktikan – Jhon Kennedy : Mukti Ali dan Kelompok YIK Tak Tunjukkan Lahan di Sidang Lapangan! Uang Tali Asih 190 Hak Warga Pemberi Kuasa!
JANGAN BIARKAN HUKUM DIINJAK” – Lahan Belum Tuntas, PT NPR Dipaksa Beroperasi: Prianto Serukan Presiden & 4 Lembaga Tertinggi Ambil Sikap Tegas!
BIKE Gandeng Perumda Pasar Jaya Kembangkan Pasar Minggu Jadi Kawasan TOD
Lahan Adat Belum Tuntas, Konsesi Tumpang Tindih – Prianto Minta Presiden & Semua Penegak Hukum Tegas Bertindak
Demi Menjaga Martabat Dunia Pendidikan, Jalih Pitoeng Ajak Masyarakat Hadiri Persidangan Dokter Tifa dan Roy Suryo

HAK JAWAB

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.  Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: detikdjakartaofficial@gmail.com.

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 16:31 WIB

Kasus Nurbani Ermin Belum Jelas Sejak 2023, DAS Law Firm Serahkan Resume Hukum

Jumat, 2 Oktober 2026 - 14:45 WIB

Polda Metro Bongkar Sindikat SMS Phishing di Rute MRT, Pakai Fake BTS Keliling

Minggu, 27 September 2026 - 14:02 WIB

KORBAN PENGEROYOKAN DI APARTEMEN THE MONDE CITY BATAM DESAK APARAT USUT TUNTAS PELAKU

Jumat, 25 September 2026 - 20:48 WIB

Surat dan Saksi Buktikan – Jhon Kennedy : Mukti Ali dan Kelompok YIK Tak Tunjukkan Lahan di Sidang Lapangan! Uang Tali Asih 190 Hak Warga Pemberi Kuasa!

Kamis, 24 September 2026 - 13:06 WIB

JANGAN BIARKAN HUKUM DIINJAK” – Lahan Belum Tuntas, PT NPR Dipaksa Beroperasi: Prianto Serukan Presiden & 4 Lembaga Tertinggi Ambil Sikap Tegas!

Berita Terbaru

Berita

Mendung, Jadi Ruang Cerita Yura Yunita dan Idgitaf

Jumat, 9 Okt 2026 - 17:44 WIB

Berita

Gemilang Run Night 2026 Di Kelapa Dua

Jumat, 9 Okt 2026 - 12:52 WIB