DetikBerita.Co.Id||Garut — Balai Desa Mulyasari, Kecamatan Bayongbong, kembali menjadi pusat perhatian warga. Kursi plastik tersusun rapi, obrolan penuh harapan, dan banner bertuliskan “Pilihan boleh berbeda, tetapi persatuan tetap yang utama” menjadi latar sosialisasi tahapan Pemilihan Kepala Desa Pengganti Antar Waktu (PAW).
Suara Warga: Antara Harapan dan Kebersamaan
Bagi masyarakat, PAW bukan sekadar prosedur administratif. “Kami ingin kepala desa yang benar-benar mendengar suara masyarakat kecil, bukan hanya bicara pembangunan besar,” ujar Budi Bontot, tokoh desa yang dikenal vokal terhadap jalannya pemerintahan.
Sementara itu, Alit Wawan, warga yang ikut mengantar salah satu calon, H. Dadang, menekankan pentingnya menjaga kekompakan. “Kalau beda pilihan itu biasa, tapi jangan sampai bikin renggang. Desa ini harus tetap kompak,” katanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mekanisme PAW: Dari Seleksi ke Pemilihan
Berbeda dengan pemilihan reguler, PAW di Mulyasari tidak hanya melalui musyawarah. Setelah pendaftaran ditutup, panitia mencatat ada lima bakal calon dengan berkas lengkap:
1. Kurnia
2. H. Dadang Soleh
3. Hendra Yana Gunawan
4. Ahmad Yusuf
5. Taufiq Nurjaman
Tahapan berikutnya adalah seleksi administrasi, yang akan menyisakan tiga calon. Setelah itu, proses berlanjut ke pemilihan terbatas.
Mekanismenya, setiap RT akan mengirimkan utusan yang mewakili beragam unsur masyarakat. Selain tokoh masyarakat dan tokoh agama, utusan juga mencakup:
– Tokoh pemuda
– Tokoh pendidikan
– Perwakilan disabilitas
– Perwakilan petani
– Perwakilan nelayan
– Perwakilan penerima manfaat (seperti PKH)
– Tokoh adat
– Perwakilan kelompok perempuan
– Perwakilan kelompok perajin
– Perwakilan pemerhati dan perlindungan anak
– Perwakilan masyarakat miskin
Dengan komposisi ini, proses PAW diharapkan benar-benar mencerminkan keberagaman suara warga desa.
Demokrasi Lokal yang Hidup
Meski sederhana, proses ini menunjukkan bahwa demokrasi tidak hanya hidup di kota besar. Di balai desa yang bersahaja, warga Mulyasari membuktikan bahwa partisipasi, transparansi, dan persatuan adalah fondasi utama. Harapan mereka sederhana: kepala desa terpilih nantinya mampu melanjutkan pembangunan, memperkuat pelayanan publik, dan menjaga harmoni sosial.
Tahapan PAW Desa Mulyasari menjadi cermin bagaimana demokrasi lokal dijalankan dengan semangat kebersamaan. Di balik kursi plastik dan banner sederhana, tersimpan tekad warga untuk menjaga desa tetap berjalan, dengan persatuan sebagai pegangan utama.
Pewarta : Yanto Rangkuti
Editor : Kang Aden
- Remaja Masjid Attaawun Garut: Regenerasi Kepemimpinan Tumbuh dari Semangat Kurban - 27/05/2026
- SMAN 1 Garut Siap Jadi Pelopor “Sekolah Maung” Jawa Barat, Perkuat Tradisi Prestasi Nasional - 26/05/2026
- Dari Lensa Jadi Warisan! Taman Safari Bawa Biodiversitas Indonesia Mendunia Lewat IAPVC 2026 - 24/05/2026























