Penulis : La Maseng
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia jurnalistik menghadirkan perubahan yang tidak bisa dihindari. Teknologi ini mempercepat proses kerja redaksi, membantu pengolahan data, serta mempermudah produksi dan distribusi informasi. Namun di balik efisiensi tersebut, muncul pertanyaan mendasar tentang akurasi, tanggung jawab, dan masa depan integritas profesi jurnalistik.
Sejumlah tokoh media, akademisi, dan lembaga pers—baik di dalam maupun luar negeri—mengingatkan bahwa penggunaan AI perlu disertai kesadaran etis yang kuat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Teknologi dan Dimensi Moral
Akademisi komunikasi dan pengamat media, Dr. Kun Wardana Abyoto, menekankan bahwa perkembangan teknologi harus selalu berada dalam kerangka moral. Ia menyatakan bahwa teknologi harus memiliki “hati nurani”. Artinya, kecanggihan sistem tidak boleh berjalan tanpa tanggung jawab manusia yang menggunakannya.
Kehadiran AI justru menuntut jurnalis memperkuat literasi, riset, dan ketelitian verifikasi. Teknologi dapat membantu proses teknis, tetapi penilaian akhir atas kebenaran tetap berada pada manusia.
Pandangan serupa disampaikan oleh Ketua Umum Media Independen Online (MIO) Indonesia, AYS Prayogie. Ia menilai transformasi digital, termasuk AI, tidak boleh mengurangi standar integritas dan profesionalisme media. Menurutnya, teknologi memang dapat meningkatkan efisiensi kerja redaksi, tetapi berpotensi melahirkan konten yang tidak akurat dan menyesatkan apabila tidak disertai pengawasan editorial yang kuat.
Peringatan dari Lembaga dan Akademisi
Dewan Pers Indonesia menyoroti bahwa penggunaan AI yang tidak dipahami secara mendalam dapat membuka ruang penyalahgunaan teknologi informasi. Media diingatkan untuk bijak memanfaatkan teknologi sekaligus berperan dalam mengedukasi publik agar tidak terjebak pada informasi yang menyesatkan.
Dari perspektif akademik, Prof. Iskandar Zulkarnain mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi menurunkan kualitas berita. Otomatisasi dapat membuat laporan menjadi lebih cepat, tetapi juga berisiko mengurangi kedalaman analisis, perspektif manusia, dan sikap kritis jurnalis. Jika tidak dikendalikan, efisiensi dapat menggantikan refleksi.
Perspektif Global
Halaman : 1 2 Selanjutnya





















